Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi XII DPR RI Sigit Karyawan Yunianto menyarankan agar PT Pertamina (Persero) maupun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tidak menyebutkan ketersediaan stok BBM nasional hanya tinggal 21 hari.
Menurutnya, penyebutan stok BBM nasional yang hanya tersisa sekitar 21 hari berpotensi menimbulkan kepanikan di masyarakat serta memicu aksi pelangsiran atau penimbunan BBM di berbagai daerah.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
"Saya melihat di daerah-daerah lain sudah mulai ada upaya pelangsiran. Kalau disebutkan stok tinggal 21 hari, pasti habis di daerah-daerah dan pelangsir-pelangsir masuk semua. Itu sangat berbahaya bagi stabilitas pasokan," ujar pria yang akrab disapa SKY saat kunjungan kerja spesifik Komisi XII DPR RI ke PT Pertamina Fuel Terminal Tanjung Gerem, Provinsi Banten, Rabu.
Politisi PDI Perjuangan itu menekankan pentingnya edukasi yang lebih santun dan positif kepada masyarakat. Pemerintah, lanjutnya, sebaiknya menyampaikan komitmen kuat untuk terus berjuang menjaga stabilitas harga BBM serta memastikan ketersediaan pasokan tetap terjaga.
"Dengan bahasa yang lebih tenang dan meyakinkan, seperti 'pemerintah akan tetap berjuang menstabilkan harga BBM dan memastikan pasokan aman', maka masyarakat akan lebih percaya dan tidak panik. Itu lebih baik daripada angka-angka yang bisa disalahartikan," ucapnya mantan Ketua DPRD Kota Palangka Raya itu.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Pernyataan ini disampaikan Sigit menyikapi kekhawatiran atas potensi gangguan distribusi BBM di tengah fluktuasi kebutuhan masyarakat, terutama menjelang periode-periode tinggi seperti hari raya atau libur nasional.
Ia berharap Pertamina dan Kementerian ESDM dapat lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi stok BBM, agar tidak menimbulkan dampak negatif di lapangan.

















































































