Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan menjelaskan bahwa Tes Kompetensi Akademik (TKA) bertujuan untuk memetakan kondisi pendidikan nasional secara menyeluruh.
Menurutnya, pemetaan tersebut penting agar DPR dapat merumuskan kebijakan pendidikan yang selaras dengan kebutuhan dan realitas di lapangan.
“Kita perlu memahami bahwa tujuan tes kompetensi ini adalah untuk mengetahui sesungguhnya peta pendidikan kita seperti apa. Apakah terjadi kesenjangan antara satu daerah dengan daerah lain, antara sekolah negeri dan swasta, serta antara kota besar dan kota kecil atau wilayah pedesaan. Itulah yang perlu dipetakan,” ujar Sofyan dikutip dari siaran YouTube TVR Parlemen, Kamis (5/2).
Baca: Ganjar Pranowo Tekankan Pentingnya Kritik
Ia menambahkan, peta pendidikan yang dihasilkan dari TKA dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan untuk menjawab persoalan-persoalan pendidikan secara nasional.
Selain itu, Sofyan menilai TKA diharapkan mampu memotret kesenjangan kualitas pendidikan, khususnya antara sekolah negeri dan sekolah swasta, serta ketimpangan fasilitas pendidikan antara kota besar dan daerah kecil atau pedesaan. Politisi Fraksi PDI Perjuangan itu juga menyoroti kecenderungan segregasi pendidikan berdasarkan latar belakang ekonomi.
“Coba kita lihat hari ini, ada kecenderungan anak-anak dari keluarga mampu tidak bersekolah di sekolah negeri, melainkan di sekolah swasta dengan biaya mahal. Anak-anak tersebut kemudian memiliki akses yang lebih mudah untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan sebagainya,” kata Sofyan.
Karena itu, ia menegaskan pentingnya paparan pemerintah terkait hasil TKA, khususnya dalam membandingkan capaian lulusan sekolah swasta berbiaya tinggi dengan sekolah negeri pada umumnya. Perbandingan tersebut, menurut Sofyan, perlu mencakup capaian numerasi, literasi, hingga pembentukan karakter peserta didik.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) menunjukkan capaian yang masih rendah, terutama pada mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris. Data Kementerian Pendidikan mencatat rata-rata nilai TKA Matematika berada di kisaran 30–37, sementara Bahasa Inggris bahkan lebih rendah, yakni sekitar 22–27 dari skor maksimal 100. Capaian tersebut terjadi baik pada jenjang SMA maupun SMK, dan dinilai mencerminkan persoalan serius dalam kualitas pembelajaran kompetensi dasar siswa.
Rendahnya nilai TKA ini disorot sebagai indikasi masalah struktural dalam sistem pendidikan nasional. Komisi X mengakui, persoalan tidak semata terletak pada kemampuan siswa, melainkan pada metode pembelajaran.
Kesiapan guru dan ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah ditengarai turut berpangaruh dalam hal ini. Selain itu, model soal TKA yang menekankan penalaran, literasi, dan numerasi dinilai belum sepenuhnya selaras dengan praktik pembelajaran di sekolah.

















































































