Bali,Gesuri.id - Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, memberikan apresiasi sekaligus catatan kritis terhadap pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Island di Bali.
Meski dinilai strategis dalam memperkuat citra pariwisata internasional, proyek ini diingatkan untuk tidak mengabaikan aspek ekologis, terutama krisis air dan dampak lingkungan.
Dalam kunjungan kerjanya pada Senin (4/5/2026), Novita menyebut bahwa KEK Kura-Kura Island memiliki desain besar (grand design) yang mampu menekan kebocoran ekonomi nasional.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo
Dengan hadirnya fasilitas pendidikan, kesehatan, hingga pusat perbelanjaan kelas dunia, masyarakat diharapkan tidak lagi bergantung pada layanan di luar negeri.
“Kita bangga ada grand design yang luar biasa ini. Ini adalah upaya agar masyarakat tidak perlu lagi ke luar negeri untuk sekolah, berobat, atau belanja,” ujar Novita dalam keterangan resminya, Rabu (6/5/2026).
Kendati mendukung dari sisi ekonomi, politisi PDI Perjuangan ini menegaskan bahwa pembangunan yang menggunakan dukungan negara harus memberikan manfaat nyata bagi warga lokal. Ia menekankan pentingnya inklusivitas agar dampak ekonomi tidak hanya dinikmati oleh segelintir kelompok.
Salah satu poin krusial yang disoroti legislator asal Dapil Jawa Timur VII ini adalah ancaman krisis air tanah yang mulai menghantui Bali. Novita mendesak pengelola kawasan untuk membangun sistem pengelolaan air yang mandiri dan berkelanjutan.
“Jangan sampai pembangunan semegah ini justru mengambil hak-hak air masyarakat,” tegas Novita.
Ia pun menyayangkan pengakuan pihak pengelola yang menyatakan belum sepenuhnya siap terkait sistem tersebut. Menurutnya, kesiapan pengelolaan air adalah syarat mutlak yang tidak boleh ditawar.
Baca: Masuk Parpol di Usia 24 Tahun, Ganjar: Saya Lahir dari Ideologi
Selain isu air, Novita menyoroti potensi limbah pembangunan yang dapat merusak ekosistem laut, mengingat lokasi proyek berbatasan langsung dengan perairan. Ia meminta skema pengelolaan sedimentasi dan limbah cair dikerjakan secara detail dan terukur guna mencegah pencemaran.
“Kita tidak boleh hanya fokus pada ekonomi jangka pendek. Keberlanjutan lingkungan harus menjadi prioritas utama,” imbuhnya.
Menutup pernyataannya, Novita menegaskan bahwa akselerasi ekonomi dan pelestarian alam adalah dua sisi mata uang yang tidak boleh dipisahkan. Pembangunan yang mengabaikan aspek ekologis hanya akan memicu masalah baru di masa depan, seperti kekeringan dan kerusakan permanen pada lingkungan.
“Ekonomi harus berjalan beriringan dengan kelestarian alam demi kepentingan rakyat,” pungkasnya.

















































































