Ikuti Kami

Tekan Beban TPA, Eri Irawan Inisiasi "Sekolah Sampah" untuk Warga Surabaya

Langkah ini diambil sebagai upaya nyata untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam mengelola sampah langsung dari sumbernya.

Tekan Beban TPA, Eri Irawan Inisiasi
Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya, Eri Irawan.

Surabaya, Gesuri.id – Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya, Eri Irawan, resmi meluncurkan program "Sekolah Sampah" edisi perdana. 

Langkah ini diambil sebagai upaya nyata untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam mengelola sampah langsung dari sumbernya, yakni lingkungan rumah tangga.

Dalam program edukasi ini, para peserta dibekali materi teoretis dan praktis. Mulai dari strategi perubahan perilaku, teknik pengomposan, hingga metode pengolahan sampah organik berbasis maggot. Tak sekadar memberikan teori, Eri juga menyalurkan bantuan fasilitas berupa puluhan tempat penampungan botol plastik dan komposter sampah organik kepada warga.

Baca: TPN Tegaskan Ganjar Sosok Yang Dekat Dengan Masyarakat

Eri menegaskan bahwa persoalan sampah perkotaan tidak akan pernah selesai jika hanya mengandalkan pengelolaan di hilir, seperti pengangkutan ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

"Masalah sampah harus diselesaikan berbasis sumber. Kalau masyarakat terbiasa memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah, beban TPA bisa jauh berkurang," ujar politisi PDI Perjuangan tersebut seusai meninjau program "Sekolah Sampah", Sabtu (23/5).

Berdasarkan data saat ini, Kota Surabaya menghasilkan timbulan sampah hingga 1.800 ton setiap harinya. Ironisnya, hampir 60 persen dari total volume tersebut merupakan sampah organik yang berasal dari sisa makanan, sayur, dan limbah dapur rumah tangga.

Oleh karena itu, "Sekolah Sampah" dirancang untuk memberikan keterampilan teknis agar masyarakat mampu mengubah limbah organik menjadi sesuatu yang bernilai guna. 

Melalui pengomposan dan budidaya maggot, proses penguraian dapat berjalan lebih cepat sekaligus menciptakan peluang nilai ekonomi baru bagi warga. Selain itu, program ini juga mengampanyekan gerakan konsumsi bijak demi menekan potensi timbulan sampah makanan sejak awal.

Lebih lanjut, Eri menjelaskan bahwa pengelolaan sampah organik berkaitan erat dengan isu krisis iklim global. Penumpukan sampah organik yang membusuk di TPA berpotensi menghasilkan gas metana (CH_4). Gas rumah kaca ini dikenal memiliki kemampuan memerangkap panas di atmosfer hingga 28 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO_2).

Saat ini, potensi emisi metana nasional diperkirakan mencapai angka fantastis, yaitu sebesar 21 juta ton CO_2 ekuivalen. Di Indonesia, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi bahkan tercatat sebagai penyumbang emisi gas metana tertinggi kedua di dunia.

"Kalau sampah organik tidak dipilah dan dikelola, dampaknya bukan hanya membuat TPA penuh, tetapi juga mempercepat krisis iklim akibat emisi gas metana," tutur Eri.

Selain fokus pada sampah organik, gerakan ini juga mendisiplinkan warga untuk memilah sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan botol kemasan. Menurut Eri, pemilahan ini nantinya diintegrasikan dengan jaringan bank sampah yang sudah berjalan di sejumlah RW di Surabaya.
Dengan sistem ini, sampah anorganik tidak akan langsung terbuang ke TPA, melainkan masuk ke siklus daur ulang yang menghasilkan keuntungan ekonomi bagi warga setempat.

"Kami mendukung penuh langkah Pemkot Surabaya ke depan untuk memperkuat pemilahan sampah berbasis sumber. Langkah ini bisa dimulai melalui proyek percontohan (pilot project) di wilayah tertentu, yang diintegrasikan dengan penambahan bank sampah, TPS3R, rumah kompos, serta berbagai metode pengolahan alami lainnya," tambahnya.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

Edisi perdana "Sekolah Sampah" ini diikuti oleh 30 penggerak kampung. Eri menargetkan program ini akan terus berlanjut ke gelombang (batch) berikutnya hingga menjangkau 300 penggerak perubahan dalam beberapa bulan ke depan.

Sektor yang menjadi prioritas peserta meliputi pengurus RT/RW, Karang Taruna, Kader Surabaya Hebat (KSH), hingga pengurus majelis taklim. Mereka diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan perilaku di lingkungan masing-masing.

Eri berharap gerakan kolektif ini dapat menekan volume harian sampah yang dikirim ke TPA, sekaligus mendukung target penurunan emisi global.

"Program ini adalah bagian dari dorongan untuk memperkuat ekonomi sirkular di tingkat kampung dan komunitas. Sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya yang masih memiliki manfaat besar apabila dikelola dengan benar," pungkas Eri Irawan.

Quote