Ikuti Kami

Bupati Temanggung: Nyadran Perdamaian Ajang Silaturahim yang Istimewa di Kaloran

Tradisi nyadran ini melibatkan masyarakat yang membawa berbagai jenis makanan dalam tenong ke pemakaman.

Bupati Temanggung: Nyadran Perdamaian Ajang Silaturahim yang Istimewa di Kaloran
Bupati Temanggung, Agus Setyawan, menyerahkan bibit pohon secara simbolis kepada peraih Kalpataru 2024, Mbah Sukoyo, dalam rangkaian ritual Nyadran Perdamaian di Pemakaman Gletuk, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Jumat (16/1/2026) - Foto: Web Pemprov Jateng

Temanggung, Gesuri.id - Bupati Temanggung yang juga politisi PDI Perjuangan Agus Setyawan mengatakan Nyadran Perdamaian merupakan ajang silaturahim yang istimewa, terutama karena melibatkan pemeluk agama Islam, Buddha, dan Kristen.

Diketahui, masyarakat dari berbagai keyakinan di Dusun Krecek dan Gletuk, Desa Getas, Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, menggelar tradisi Nyadran Perdamaian. 

Acara yang berlangsung di Pemakaman Gletuk pada Jumat, 16 Januari 2026, ini menjadi simbol kerukunan antarumat beragama.

Agus Setyawan, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai wujud nyata persatuan. 

“Masyarakat yang hadir di sini dari berbagai macam keyakinan yang mereka anut bersatu di tempat ini. Kegiatan seperti ini merupakan salah satu bentuk wujud masyarakat desa di Kabupaten Temanggung secara umum, khususnya di Desa Getas selalu menjalin hubungan silaturahim meskipun berbeda keyakinan,” ujarnya.

Tradisi nyadran ini melibatkan masyarakat yang membawa berbagai jenis makanan dalam tenong ke pemakaman. Uniknya, makanan-makanan tersebut kemudian dicampur menjadi satu dan dinikmati bersama-sama oleh seluruh peserta tanpa terkecuali. 

Selain mempererat hubungan antarmanusia, Nyadran Perdamaian juga mengusung pesan harmoni dengan alam. 

Bupati Agus Setyawan menjelaskan perdamaian yang dimaksud tidak hanya sebatas hubungan antarsesama, tetapi juga bagaimana manusia dapat selalu berdamai dengan lingkungan. 

“Pastinya perdamaian ini tidak hanya perdamaian antarmanusia, tetapi bagaimana caranya manusia bisa selalu berdamai dengan alam,” katanya.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, masyarakat Dusun Krecek dan Gletuk juga melakukan penanaman pohon. Kegiatan ini bertepatan dengan momen menjelang bulan puasa bagi umat Muslim, menambah makna spiritual dan kepedulian lingkungan dalam tradisi tersebut.

Untuk itu Bupati Agus berharap budaya positif semacam ini dapat terus dipertahankan dan dijunjung tinggi. 

“Ini adalah bentuk wujud persaudaraan di antara mereka, mereka tetap bareng-bareng dan saling menjaga, budaya seperti ini harus terus kita pertahankan dan junjung tinggi. Budaya positif menyatukan manusia dengan alam,” pungkasnya.

 

Quote