Ikuti Kami

Dede Indra Permana Soediro: Keberagaman Kekayaan Budaya Bukan Pemecah Belah

Jangan sampai perbedaan yang seharusnya menjadi kekuatan justru dimanfaatkan untuk memecah belah masyarakat.

Dede Indra Permana Soediro: Keberagaman Kekayaan Budaya Bukan Pemecah Belah
Sosialisasi MPR RI di Daerah Pemilihan Jawa Tengah X yang digelar di Aula Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang.

Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua komisi III DPR RI, Dede Indra Permana Soediro, mengajak masyarakat untuk menjadikan keberagaman budaya sebagai kekuatan dalam memperkokoh persatuan bangsa. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi MPR RI di Daerah Pemilihan Jawa Tengah X yang digelar di Aula Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang.

Mengangkat tema “Keberagaman Kekayaan Budaya, Bukan Pemecah Belah”, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman yang luar biasa, mulai dari suku, bahasa, adat istiadat, kesenian, tradisi hingga berbagai bentuk kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat.

Dalam pemaparannya, Dede Indra Permana Soediro mengatakan keberagaman merupakan salah satu identitas utama bangsa Indonesia. Perbedaan budaya yang ada dari Sabang sampai Merauke justru menjadi kekayaan yang tidak dimiliki oleh semua negara.

“Keberagaman budaya adalah kekayaan bangsa. Jangan sampai perbedaan yang seharusnya menjadi kekuatan justru dimanfaatkan untuk memecah belah masyarakat,” ujar Dede dikutip Kamis (8/10/2026).

Menurutnya, semangat Bhinneka Tunggal Ika harus terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Semboyan tersebut mengajarkan bahwa meskipun masyarakat Indonesia memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda, seluruhnya tetap berada dalam satu kesatuan sebagai bangsa Indonesia.

Dede menilai perkembangan zaman membawa tantangan tersendiri dalam menjaga keberagaman. Arus informasi yang semakin cepat, terutama melalui media sosial, dapat memperkenalkan masyarakat pada berbagai budaya dan membuka ruang interaksi yang lebih luas. Namun, di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi sarana penyebaran informasi yang dapat memunculkan prasangka, konflik, dan sentimen antarkelompok apabila tidak digunakan secara bijak.

Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang mempertentangkan identitas kelompok, termasuk isu yang berkaitan dengan suku, agama, ras, maupun budaya.

“Jangan mudah diadu domba hanya karena kita berbeda. Kita boleh berbeda adat, berbeda bahasa, berbeda tradisi, tetapi kita tetap satu sebagai bangsa Indonesia,” tegasnya.

Ia juga mendorong generasi muda untuk ikut berperan dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan Indonesia. Menurutnya, kemajuan teknologi seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk kepada generasi muda.

Budaya lokal, kata Dede, tidak boleh hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Kebudayaan merupakan bagian dari identitas bangsa yang harus dirawat dan dikembangkan agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Dalam konteks kehidupan masyarakat, Dede juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun sikap saling menghormati. Perbedaan kebiasaan dan tradisi hendaknya menjadi ruang untuk saling mengenal dan belajar, bukan alasan untuk saling menjauh.

“Kalau kita mampu melihat perbedaan sebagai kekayaan, maka keberagaman akan menjadi energi positif bagi pembangunan. Sebaliknya, kalau perbedaan terus dipertentangkan, tentu akan menjadi celah yang bisa dimanfaatkan untuk memecah persatuan,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, Dede juga mengingatkan kembali pentingnya memahami dan mengamalkan nilai-nilai empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Menurutnya, pemahaman terhadap empat pilar kebangsaan tidak cukup hanya diketahui secara teori, tetapi harus tercermin dalam perilaku masyarakat. Menghargai perbedaan, menjaga toleransi, mengedepankan musyawarah, serta mengutamakan kepentingan bersama merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai kebangsaan.

Dede berharap masyarakat Kecamatan Moga dan sekitarnya dapat terus menjaga kerukunan serta menjadi bagian dari upaya memperkuat persatuan di tengah keberagaman bangsa.

“Indonesia besar karena keberagamannya. Tugas kita adalah menjaga agar keberagaman tersebut menjadi sumber kekuatan, bukan sumber perpecahan,” pungkasnya.

Kegiatan Sosialisasi MPR RI di Dapil Jawa Tengah X tersebut berlangsung dalam suasana interaktif. Masyarakat yang hadir turut mengikuti pemaparan dan berdialog mengenai berbagai persoalan kebangsaan, khususnya terkait pentingnya menjaga keberagaman, toleransi, dan persatuan dalam kehidupan bermasyarakat.

Quote