Surabaya, Gesuri.id – Turnamen sepak bola usia muda yang diikuti 16 provinsi, Soekarno Cup 2026, bakal segera digelar di Surabaya, Gresik, dan Bangkalan pada 10-24 Agustus 2026. Panitia menggelar kegiatan food test sebagai bagian dari upaya menjamin keamanan pangan dan kualitas gizi bagi lebih dari 400 talenta muda sepak bola yang akan berlaga pada turnamen yang telah digelar rutin sejak 2023 tersebut.
Kegiatan food test digelar pada Jumat (24/7/2026) dengan melibatkan tenaga ahli gizi dari RSUD dr. Soewandhie Surabaya bersama otoritas kesehatan setempat. Ahli gizi yang terlibat antara lain Erricha Darin Irbah, S.Gz, Natalia Enggar, S.Gz, dan Rohanda Putra Gama, S.Gz.
Pemeriksaan dilakukan terhadap menu yang akan dikonsumsi para atlet, mulai dari kualitas bahan baku yang semuanya merupakan pangan lokal, proses pengolahan, higienitas penyajian, hingga kandungan gizi yang dibutuhkan untuk menunjang performa selama turnamen.
“Food test merupakan salah satu tahapan penting dalam penyelenggaraan turnamen yang melibatkan ratusan atlet. Selain bertujuan mencegah risiko keracunan makanan dan penyakit yang ditularkan melalui pangan, proses ini juga memastikan setiap menu memiliki kualitas gizi yang konsisten sesuai kebutuhan atlet,” ujar Ahli Gizi, Rohanda Putra Gama.
BaCa: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Dalam pemeriksaan makanan yang berlangsung hampir tiga jam tersebut, para ahli gizi secara bergantian mengecek gizi seimbang yang ada di makanan yang akan dikonsumsi para atlet yang bakal berlaga di Soekarno Cup. Kandungan karbohidrat, protein berkualitas tinggi, vitamin, mineral, serat, hingga antioksidan dari sayur dan buah untuk menjaga daya tahan tubuh diperiksa.
“Untuk pertandingan sepak bola selama 90 menit, dengan asumsi berat badan atlet sekitar 70 kilogram, kita perlu memastikan kecukupan kalorinya. Secara umum kami menilai makanan yang disajikan sudah memiliki gizi seimbang,” ujar Gama.
Dalam food test tersebut juga disampaikan bahwa pihak yang memproses makanan untuk atlet Soekarno Cup telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan penjamah makanan yang merupakan dua elemen kunci dalam keamanan pangan.

Wakil Ketua Panitia Bidang Operasional Soekarno Cup 2026, Aprizaldi, mengatakan, pengawasan terhadap makanan menjadi bagian dari standar operasional karena gangguan kesehatan akibat konsumsi makanan yang tidak aman dapat memengaruhi kondisi fisik peserta sekaligus kelancaran jalannya kompetisi.
Aprizaldi menjelaskan, food test ini menjadi bagian dari komitmen panitia Soekarno Cup untuk memastikan seluruh peserta memperoleh makanan yang aman, sehat, dan memenuhi kebutuhan nutrisi atlet usia muda.
“Kecukupan gizi menjadi faktor penting dalam menjaga kebugaran, mempercepat proses pemulihan, serta mendukung performa optimal di lapangan. Sehingga Soekarno Cup bisa menjadi ajang turnamen dengan penampilan atraktif para pemainnya, yang kita harapkan bersama bisa menjadi penerus bagi masa depan sepak bola Indonesia,” ujar Aprizaldi.
BaCa: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa
“Dengan penerapan standar keamanan pangan yang baik, Soekarno Cup berupaya menghadirkan penyelenggaraan turnamen yang profesional sekaligus memberikan perlindungan optimal bagi seluruh pemain,” imbuh Aprizaldi.
Wakil Ketua Panitia Bidang Pertandingan, Eri Irawan, menambahkan, selama penyelenggaraan Soekarno Cup, setiap atlet memperoleh fasilitas makan sebanyak tiga kali sehari. Khusus pada hari pertandingan, panitia juga menyiapkan asupan nutrisi tambahan berupa makanan ringan bergizi, buah, serta minuman yang mendukung kebutuhan energi sebelum bertanding dan membantu pemulihan setelah pertandingan.
“Kami berupaya mengatur waktu konsumsi makanan yang disesuaikan dengan kebutuhan atlet,” ujarnya.
Melalui penerapan food test dan pengawasan gizi secara menyeluruh, panitia berharap seluruh peserta dapat bertanding dalam kondisi prima. “Upaya ini sekaligus menunjukkan bahwa pembinaan sepak bola usia muda tidak hanya berfokus pada aspek teknik dan taktik, tetapi juga memperhatikan kesehatan, keamanan pangan, dan pemenuhan nutrisi sebagai fondasi lahirnya atlet-atlet berprestasi,” imbuh Eri Irawan.
















































































