Ikuti Kami

Rokhmin Dahuri: Ayat-Ayat Kauniyah dan Qauliyah, Fondasi Pembangunan Agro-Maritim

Fondasi pembangunan agro-maritim menuju visi Indonesia Emas 2045. 

Rokhmin Dahuri: Ayat-Ayat Kauniyah dan Qauliyah, Fondasi Pembangunan Agro-Maritim
Anggota Komisi IV DPR RI, yang juga Rektor Universitas UMMI Bogor, Rokhmin Dahuri.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI, yang juga Rektor Universitas UMMI Bogor, Rokhmin Dahuri, menegaskan pentingnya memahami ayat-ayat kauniyah dan qauliyah sebagai fondasi pembangunan agro-maritim menuju visi Indonesia Emas 2045. 

Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber utama dalam Workshop Ayat-Ayat Kauniyah yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama MPW ICMI Orwil Khusus Bogor dan Majelis Daerah Kahmi Bogor, bekerja sama dengan DKM Masjid Al-Hurriyah IPB, di IPB International Convention Center (IICC), Jumat (27/2).

“Indonesia memiliki potensi agro-maritim yang luar biasa. Bila dikelola dengan ilmu, iman, dan nilai Qur’ani, maka cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi, melainkan keniscayaan,” kata Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University tersebut.

Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin membawakan makalah berjudul “Perspektif Al-Qur’an dalam Pembangunan Agro-Maritim Menuju Indonesia Emas 2045”. Ia menegaskan bahwa kunci kebahagiaan dan kesuksesan manusia, baik individu maupun bangsa, terletak pada pedoman hidup yang diturunkan Allah SWT melalui Islam, yakni Al-Qur’an dan Hadits sahih.

“Jika ayat qauliyah adalah wahyu tertulis (Al-Qur’an), maka ayat kauniyah adalah wahyu tersirat berupa alam semesta. Keduanya tidak mungkin bertentangan, karena sama-sama bersumber dari Allah,” tegasnya.

Menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa ketika umat Islam menjalankan ajaran secara kaffah dan itibba’, kejayaan besar pernah diraih pada masa Golden Age of Moslem. Momentum tersebut, kata dia, harus kembali dihidupkan dengan membaca, mentadaburi, dan mengamalkan ayat-ayat Allah, baik yang tertulis dalam Al-Qur’an (qauliyah) maupun yang terbentang di alam semesta (kauniyah).

“Dengan membaca, mentadaburi, dan mengamalkan ayat-ayat Allah, baik qauliyah maupun kauniyah, kita dapat membangun Indonesia berbasis agro-maritim yang berdaya saing global, menuju cita-cita Indonesia Emas 2045,” ucapnya.

Prof. Rokhmin menjelaskan bahwa ayat kauniyah merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT berupa fenomena alam semesta, hukum-hukum fisika, dan sunnatullah yang mengatur jagad raya. Ia mencontohkan peredaran planet, penciptaan manusia, tumbuhnya tanaman, hingga hukum fisika sebagai manifestasi ayat kauniyah yang semakin meneguhkan keimanan seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Mengutip hipotesis Maurice Bucaille dalam bukunya “Bible, Al-Qur’an, and Science” (1976), ia menegaskan bahwa agama yang haq tidak mungkin bertentangan dengan sains. Bahkan, ia menyebut keajaiban ilmiah Al-Qur’an, di antaranya penyebutan kata “laut” (Al-Bahr) sebanyak 32 kali dan “darat” (Al-Barr) 13 kali, yang selaras dengan komposisi permukaan bumi yang didominasi lautan.

“Al-Qur’an bertabur ayat tentang air, hujan, tanah, laut, dan berbagai ekosistem yang menjadi fondasi pertanian dan kelautan. Ini bukan sekadar teks ibadah, tetapi juga panduan pembangunan,” ujar Prof. Rokhmin.

Sebagai Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat dan MN-KAHMI, ia menegaskan bahwa pembangunan sektor agro-maritim Indonesia harus berakar pada nilai-nilai Qur’ani yang terintegrasi antara wahyu tertulis dan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Dalam perspektif tersebut, manusia berperan sebagai khalifah yang memikul amanah menjaga keseimbangan dan keberlanjutan alam.

“Agro-maritim adalah jalan strategis bangsa. Jika kita berpijak pada nilai Qur’ani, maka pembangunan bukan sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi menghadirkan keberkahan, keadilan sosial, dan keberlanjutan ekologis,” ungkapnya.

Prof. Rokhmin juga merumuskan lima prinsip utama pembangunan agro-maritim berbasis nilai Qur’ani, yakni amanah (khalifah), mizan (keseimbangan), anti-fasad (tanpa perusakan), adil dan maslahah, serta anti-israf (anti pemborosan). Prinsip-prinsip ini, menurutnya, menjadi fondasi transformasi ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045.

“Dengan amanah, keseimbangan, keadilan, dan efisiensi, kita bisa membangun ekonomi agro-maritim yang berkelanjutan, berdaya saing global, dan membawa maslahat bagi seluruh rakyat Indonesia,” jelasnya.

Ia pun menegaskan bahwa pembangunan agro-maritim tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata, melainkan harus berpijak pada keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis.

“Jika nilai Qur’ani menjadi fondasi kebijakan, maka pembangunan bukan hanya menghasilkan kemajuan ekonomi, tetapi juga menghadirkan keberkahan dan kesejahteraan yang berkeadilan,” tegasnya.

Workshop yang digelar bersama MPW ICMI Orwil Khusus Bogor, Majelis Daerah Kahmi Bogor, dan DKM Masjid Al-Hurriyah IPB tersebut menjadi ruang refleksi intelektual sekaligus spiritual. Selain Prof. Rokhmin, acara ini juga menghadirkan sejumlah tokoh nasional seperti Prof. Dr. Arif Satria, Prof. Dr. Evi Damayanti, Prof. Dr. Didin S. Damanhuri, serta tausiyah oleh Syekh Nasiruddin Ishom At-Tamady.

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam menyatukan cendekiawan Muslim, akademisi, dan masyarakat untuk memadukan iman, ilmu pengetahuan, dan kebijakan publik dalam satu visi strategis menuju Indonesia Emas 2045.

Quote