Ikuti Kami

Rokhmin Dahuri: Islam Hadir Untuk Merangkul Tradisi Lokal Secara Gradual dan Harmonis

Rokhmin menegaskan penyebaran Islam di Indonesia berlangsung secara damai dan penuh akulturasi dengan budaya lokal.

Rokhmin Dahuri: Islam Hadir Untuk Merangkul Tradisi Lokal Secara Gradual dan Harmonis
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS menelusuri jejak perkembangan Islam di Nusantara melalui refleksi sejarah di Keraton Kasepuhan, Cirebon. 

Rokhmin menegaskan penyebaran Islam di Indonesia berlangsung secara damai dan penuh akulturasi dengan budaya lokal, sebagaimana dicontohkan para Wali Songo, khususnya Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

“Melalui prinsip rahmatan lil alamin, Islam hadir bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk merangkul tradisi lokal secara gradual dan harmonis,” ujar Rektor Universitas UMMI Bogor, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS dalam refleksinya di Keraton Kasepuhan, dikutip Sabtu (7/3).

Keraton Kasepuhan yang berdiri sejak abad ke-15 menjadi salah satu saksi penting perkembangan peradaban Islam di Cirebon. Bangunan bersejarah tersebut memperlihatkan perpaduan arsitektur Hindu-Buddha dan Islam, mulai dari gapura bergaya Majapahit hingga bangunan Siti Hinggil yang sarat makna simbolik.

Di kompleks keraton juga terdapat bangunan Mande Malang Semiran dengan 20 tiang yang melambangkan sifat wajib Allah SWT. Perpaduan nilai budaya dan spiritual ini mencerminkan pendekatan dakwah para wali yang adaptif dan menghargai tradisi setempat.

Tak jauh dari keraton, berdiri Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang juga menjadi saksi perjuangan Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam. Masjid tersebut dibangun dengan melibatkan ratusan pekerja dari berbagai wilayah, menjadi simbol kebersamaan dalam membangun peradaban.

Tradisi khas seperti Azan Pitu dan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati hingga kini masih dijalankan masyarakat, terutama pada bulan Ramadan. Tradisi ini menjadikan Ramadan di Tanah Wali tidak sekadar ritual ibadah, tetapi juga momentum penguatan spiritual dan budaya.

Legislator PDI Perjuangan itu menegaskan kembali esensi dakwah Wali Songo yang bersumber pada hadis Rasulullah SAW: “Permudahlah, jangan dipersulit. Berilah kabar gembira, jangan membuat orang lari.”

"Walisongo dalam berdakwah sangat bil hikmah, tidak dengan menakut-nakuti, tidak dengan mempersulit. Karena Syekh Syarif Hidayatulloh atau Sunan Gunung Jati sangat menuruti hadits sahih Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, permudahlah jangan dipersulit," tuturnya.

Indonesia yang dulunya animisme menjadi penduduk muslim terbesar di dunia. Penyebar utamanya adalah selain para pedagang (entrepreneur) juga para wali yang terkenal dengan Walisongo.

Prof. Rokhmin Dahuri mengungkapkan, masuknya Islam ke Indonesia dilakukan secara damai dan sangat gradual adaptif dengan local culture. 

"Cara-cara dakwah Walisongo bil hikmah, sejuk dengan penuh rahmatan lil alamin, islamisasi terjadi dengan damai, tidak menaklukkan seperti negara barat," tegasnya.

Di akhir pesannya, Prof. Rokhmin mengajak umat menjadikan puasa sebagai sarana meningkatkan takwa, baik secara hablum minallah maupun hablum minannas.

“Takwa sosial yang diwujudkan melalui kerja keras, kepedulian pada sesama, serta menjaga lingkungan hidup harus menjadi buah nyata dari ibadah kita di bulan suci ini,” tegas Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004.

Quote