Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi I DPR RI, Rudianto Tjen, menyoroti perayaan Tradisi Cheng Beng sebagai sarana untuk memperkuat ikatan sosial dan mempromosikan harmoni antar komunitas.
"Selain Festival Cheng Beng, kami juga akan mengadakan perayaan hari raya keagamaan lainnya seperti Maulid Nabi dan Isra Mi’raj, sehingga masyarakat dari berbagai agama mendapatkan perhatian yang sama dari pemerintah," kata Rudianto Tjen, dikutip Selasa (7/4/2026).
Tradisi Cheng Beng merupakan simbol penghormatan mendalam dan kekerabatan terhadap leluhur, orang tua, serta kerabat. Ritual pembersihan makam ini bukan sekadar tradisi keagamaan atau budaya, melainkan juga mengandung nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, memaknai Tradisi Cheng Beng sebagai perwujudan nilai-nilai kehormatan, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai ini telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur, membentuk karakter masyarakat Bangka Belitung.
"Ini adalah cara kita mengenang kontribusi, doa, dan kasih sayang yang telah mereka berikan," ujar Gubernur Hidayat Arsani, menekankan pentingnya mengingat jasa para pendahulu.
Ritual ini juga memperkuat ikatan kekerabatan dan mengajarkan pentingnya menghargai sejarah serta melestarikan silsilah keluarga. Walikota Pangkalpinang, Saparudin, mencatat antusiasme publik yang tinggi terhadap acara Cheng Beng. Ia berharap Pemakaman Sentosa, yang merupakan salah satu pemakaman Tionghoa terbesar di Asia Tenggara, dapat dikembangkan sebagai destinasi pariwisata.
Gubernur Hidayat Arsani menekankan bahwa momen Tradisi Cheng Beng mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik, saling menghormati, dan mempererat tali silaturahmi. Baik di antara keluarga maupun di tengah masyarakat luas. Melalui tradisi ini, pemerintah daerah berupaya menyatukan Bangka Belitung menuju masa depan yang lebih baik.
Gubernur juga mengapresiasi upaya masyarakat dalam melestarikan warisan budaya ini dari generasi ke generasi.
Upaya pelestarian ini tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga memperkuat fondasi sosial masyarakat. Ini menunjukkan bahwa tradisi memiliki peran vital dalam pembangunan komunitas yang harmonis dan berkelanjutan.

















































































