Magetan, Gesuri.id — Halaman Kantor Perpustakaan Magetan mendadak hangat dan meriah pada Kamis (17/9) malam. Kelompok teater asal Jepang, Teater Kaki Lima Puchi Mari Mari, sukses memukau warga setempat lewat pementasan interaktif yang kaya akan nilai pertukaran budaya.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Diana Sasa, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya pertunjukan yang membaur langsung dengan masyarakat tersebut.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
"Terima kasih kepada teman-teman Teater Kaki Lima Puchi Mari Mari yang telah hadir di Magetan. Saya juga sangat mengapresiasi masyarakat yang antusias meramaikan acara ini," ujar Diana, Jumat (18/9).
Menurut Diana, tingginya antusiasme penonton dari berbagai kalangan usia membuktikan bahwa ruang-ruang kebudayaan masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Ia berharap ruang perjumpaan budaya semacam ini terus dihidupkan untuk memperluas pemikiran masyarakat.
"Masih banyak masyarakat yang peduli dan terbuka untuk mengenal kebudayaan luar. Pertemuan langsung dengan seniman mancanegara seperti ini memberi pengalaman baru dalam memandang seni," tambahnya.
Kesan mendalam juga dirasakan oleh salah satu penonton lokal, Lingga. Bagi Lingga, menyaksikan aksi seniman Jepang secara tatap muka memberikan sensasi yang jauh berbeda dibanding hanya melihatnya dari layar media.
"Ini pengalaman pertama saya menyaksikan pertukaran budaya secara langsung. Rasanya sangat beda ketika mereka tampil tepat di tengah-tengah kita. Semoga kegiatan dengan konsep segar ini terus berlanjut agar kita bisa saling belajar," ungkap Lingga.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo
Puchi Mari Mari dikenal dengan konsep pertunjukan yang fleksibel. Mereka tidak bergantung pada panggung besar, tata cahaya rumit, maupun perangkat megah. Pendekatan minimalis ini sengaja diusung agar batas antara pemain dan penonton melebur, menciptakan suasana pertunjukan yang intim dan hangat.
Pementasan di Magetan ini merupakan bagian dari rangkaian tur Teater Kaki Lima di kawasan Solo Raya dan eks-Keresidenan Madiun. Selama tur berlangsung, Kelompok Hidup bertindak sebagai fasilitator sekaligus mitra produksi dalam pergelaran bertajuk Handai Taulan.

















































































