Ikuti Kami

Masady Manggeng: Berkoperasilah Jika Lawanmu Itu Korporasi!

Oleh: Politisi PDI Perjuangan Aceh, Masady Manggeng.

Masady Manggeng: Berkoperasilah Jika Lawanmu Itu Korporasi!
Politisi PDI Perjuangan Aceh, Masady Manggeng.

Jakarta, Gesuri.id - Politisi PDI Perjuangan Aceh, Masady Manggeng, mengatakan di tanah Aceh Barat Daya kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana wajah korporasi sesungguhnya.

Mereka datang dengan pakaian rapi, bicara tentang “investasi”, “pembangunan daerah”, dan “lapangan kerja”. Tapi setelah mereka pergi, yang tertinggal bukan kesejahteraan, melainkan luka ekologis: hutan gundul, tanah retak, sungai tercemar, dan rakyat yang makin miskin.

Sawit menelan kampung-kampung. Tambang merobek perut bumi. Lahan adat berubah jadi sertifikat perusahaan. Sungai yang dulu jernih, kini keruh oleh limbah. Hutan yang dulu penuh kehidupan, kini sunyi oleh deru mesin. Dan di tengah semua itu, rakyat dibiarkan sendirian, melawan modal yang tak terkalahkan.

Apakah kita rela hanya menjadi penonton? Apakah kita akan diam ketika generasi mendatang hanya mewarisi lubang tambang dan lahan kritis?

Jangan! Karena lawan kita bukan orang kecil, tapi korporasi raksasa yang punya uang, punya kuasa, dan punya negara di belakangnya. Mereka bisa membeli izin, menguasai pejabat, bahkan membuat aturan sesuai keinginan mereka. Jika rakyat melawan sendirian, maka ia akan kalah. Jika rakyat mengadu, suaranya akan tenggelam.

Maka, jalan satu-satunya adalah bersatu! Dan wadah persatuan itu bernama koperasi

Koperasi bukan sekadar tempat simpan-pinjam. Ia adalah alat perjuangan rakyat. Dengan koperasi, petani bisa menentukan harga gabahnya sendiri, bukan dipermainkan tengkulak. Dengan koperasi, nelayan bisa membeli solar dan peralatan dengan murah, bukan tunduk pada permainan pasar. Dengan koperasi, rakyat bisa mengelola hutan dan tanah secara kolektif, bukan menyerahkan pada perusahaan yang hanya meninggalkan bencana.

Ingat, Bung Hatta tidak pernah bermimpi koperasi hanya jadi papan nama di kantor desa. Ia membayangkan koperasi sebagai benteng rakyat melawan monopoli, sebagai wadah demokrasi ekonomi, sebagai jalan menuju kedaulatan. Dan hari ini, cita-cita itu harus kita hidupkan kembali di Aceh Barat Daya.

Saudara-saudaraku, jangan lagi berharap banyak pada negara. Kita sudah berkali-kali dikhianati. Pemerintah lebih sering berdiri di pihak modal daripada di pihak rakyat. Aparat lebih sigap mengawal perusahaan daripada mendengar jeritan warga. Regulasi dibuat untuk mempermudah izin tambang dan sawit, sementara rakyat dipersulit ketika ingin mengelola tanahnya sendiri.

Maka, jika hari ini rakyat Aceh Barat Daya tidak segera bersatu, kita akan kehilangan segalanya. Leuser akan hilang, laut akan habis, tanah akan tandus, dan anak cucu kita hanya akan mewarisi kesengsaraan.

Kita tidak boleh tinggal diam. Kita tidak boleh tercerai. Kita harus konsolidasi, harus membangun koperasi yang benar-benar hidup, yang dikelola dengan kejujuran dan keberanian. Koperasi yang bukan hanya untuk ekonomi, tapi juga untuk perlawanan.

Maka saya katakan sekali lagi: Jika lawanmu itu korporasi, jangan hadapi sendirian. Ber-koperasi-lah!

Satukan kekuatan, rebut kembali ruang hidup, dan buktikan bahwa rakyat Aceh Barat Daya bukan bangsa yang bisa dijual dengan izin tambang dan perkebunan. Kita lebih besar daripada korporasi, selama kita bersatu.

Quote