Jakarta, Gesuri.id - Tujuh puluh sembilan tahun usia Ibu Megawati Soekarnoputri bukanlah hitungan waktu yang sederhana. Ia adalah akumulasi sejarah, pengorbanan, dan keteguhan ideologi yang terus diuji oleh zaman. Di tengah dunia yang makin liberal, pragmatis, dan sering kali menjauh dari rakyat kecil, Megawati tetap berdiri sebagai simbol perlawanan ideologis, penjaga api marhaenisme agar tidak padam oleh angin kekuasaan dan godaan modal.
Megawati bukan sekadar anak Bung Karno; ia adalah pelanjut garis ideologi yang tidak mudah. Marhaenisme yang diwariskan kepadanya bukan romantisme masa lalu, melainkan panduan etik dalam memimpin dan berpolitik: keberpihakan tegas pada rakyat kecil, penolakan terhadap penindasan ekonomi, serta keyakinan bahwa negara harus hadir sebagai alat emansipasi, bukan sebagai pelayan segelintir elite.
Dalam perjalanan politiknya, Megawati mengalami apa yang dialami banyak rakyat: disingkirkan, diremehkan, dilawan oleh kekuatan besar. Namun dari sanalah karakternya ditempa. Ia memilih bertahan bersama rakyat ketika kekuasaan menjauh, memilih kesetiaan pada ideologi ketika kompromi tampak lebih menguntungkan. Keputusan itulah yang menjadikannya pemimpin ideologis, bukan sekadar pemimpin elektoral.
Sebagai Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati memimpin dalam situasi pasca-krisis yang genting. Namun ia menunjukkan bahwa marhaenisme bukan slogan kosong. Di bawah kepemimpinannya, negara kembali ditegakkan sebagai pemegang kedaulatan, bukan sekadar administrator pasar. Ia menjaga aset strategis nasional, menolak dominasi asing yang berlebihan, dan menempatkan stabilitas nasional sebagai prasyarat bagi keadilan sosial. Kepemimpinannya tenang, tetapi berakar kuat pada kepentingan rakyat.
Lebih penting lagi, sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati berperan sebagai penjaga ideologi di tengah arus politik yang kian transaksional. Ia menegaskan bahwa partai bukan sekadar kendaraan kekuasaan, melainkan alat perjuangan rakyat. Di tangannya, PDI Perjuangan berdiri sebagai rumah besar kaum marhaen—petani, buruh, nelayan, guru, dan seluruh rakyat kecil yang menuntut keadilan struktural.
Marhaenisme yang dijaga Megawati bukan marhaenisme yang marah tanpa arah, melainkan marhaenisme yang sadar sejarah, berakar pada Pancasila, dan berpijak pada konstitusi. Ia mengajarkan bahwa revolusi tidak selalu berteriak di jalan, tetapi juga bekerja dalam institusi negara dengan kesabaran, disiplin, dan keberanian moral. Dalam dirinya, ideologi menemukan wajah keteguhan—tidak mudah goyah oleh popularitas sesaat.
Bagi generasi muda, Megawati adalah teladan tentang politik nilai. Ia menunjukkan bahwa menjadi progresif tidak berarti kehilangan identitas nasional, dan menjadi nasionalis tidak berarti menutup mata pada penderitaan rakyat. Ia merawat politik sebagai ruang pengabdian, bukan panggung pencitraan. Dalam dunia yang serba cepat, Megawati memilih konsistensi sebagai bentuk perlawanan.
Di usia ke-79 tahun, Megawati Soekarnoputri telah menjelma sebagai Ibu Ideologi Republik. Ia bukan hanya tokoh politik, tetapi penjaga nurani bangsa. Ia berdiri sebagai pengingat bahwa tanpa keberpihakan pada rakyat kecil, republik ini kehilangan jiwanya. Bahwa tanpa ideologi, demokrasi akan berubah menjadi sekadar prosedur kosong.
Selamat ulang tahun ke-79, Ibu Megawati Soekarnoputri. Semoga api marhaenisme yang Ibu jaga terus menyala, menerangi jalan perjuangan bangsa menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Republik ini masih membutuhkan keteguhanmu, dan rakyat masih belajar dari kesetiaanmu pada cita-cita keadilan sosial.

















































































