Ikuti Kami

Hasto: 600 Doktor Pernah Merumuskan Cetak Biru Bangsa, BRIN Harus Kaji Mana yang Masih Relevan

Dari City of Intellect hingga Kasus Petani Aceh, PDI Perjuangan Soroti Nasib Inovasi Rakyat di Hari Pancasila.

Hasto: 600 Doktor Pernah Merumuskan Cetak Biru Bangsa, BRIN Harus Kaji Mana yang Masih Relevan
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.

Jakarta, Gesuri.id  – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama perguruan tinggi untuk mengkaji kembali Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana—cetak biru pembangunan yang dirancang pada era Soekarno—sebagai referensi menyusun arah pembangunan masa depan Indonesia.

Dorongan ini disampaikan Hasto dalam pidatonya pada peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar di halaman Masjid At Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026).

Menurut Hasto, visi geopolitik Bung Karno menempatkan Indonesia sebagai negara terkuat di Samudra Hindia dan pintu gerbang masa depan dunia di Pasifik. Visi itu dijabarkan melalui Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana yang disusun oleh lebih dari 600 doktor dari berbagai disiplin ilmu.

Baca: Ganjar Ajak Kader Banteng NTB Selalu Introspeksi Diri

"BRIN bersama perguruan tinggi Indonesia dapat mengkaji Pola Pembangunan Semesta Berencana ini secara saintifik, mana yang masih relevan sebagai kompas pembangunan masa depan bangsa," ujar Hasto.

Ia menjelaskan bahwa dalam pola pembangunan tersebut, perguruan tinggi ditempatkan sebagai City of Intellect atau pusat keunggulan ilmu pengetahuan. "UGM misalnya, menjadi City of Intellect tentang Pancasila, demokrasi, pemerintahan, dan kebudayaan. Sementara IPB sebagai City of Intellect bagi rancangan Indonesia yang berdaulat di bidang pangan," jelas Hasto.

Namun, Hasto menyayangkan bahwa semangat inovasi dari akar rumput justru berhadapan dengan kriminalisasi. Ia menyoroti kasus Tengku Munirwan, Kepala Desa Meunasah Rayeuk, Aceh Utara, yang dipenjara karena mengembangkan benih padi IF8 pada 2019.

Baca: Ganjar Pranowo Tegaskan Komitmennya Untuk Berantas KKN

"Dalam pertemuan rapat DPP yang lalu, Ibu Mega sangat mengkhawatirkan ketika rakyat berinovasi di Aceh, mencoba mengembangkan benih dengan seluruh tradisi penelitian yang hidup di kalangan rakyat, ternyata justru dipenjarakan oleh aparat penegak hukum. Ini anti-inovasi," ungkap Hasto.

Ia menegaskan bahwa seluruh koridor strategis dalam Pola Pembangunan Nasional Semesta dan Berencana menempatkan perguruan tinggi pada peran yang sangat sentral. "Ini dari Ibu Megawati Soekarnoputri," kata Hasto.

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih berlangsung khidmat di Halaman Masjid At Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sekjen Hasto bertindak sebagai inspektur upacara. Hadir antara lain Ganjar Pranowo, Ahok, Tri Rismaharini, Yasonna Laoly, dan tokoh DPP lainnya. Ketua Umum Megawati mengikuti secara daring.

Quote