Ikuti Kami

Memperingati 30 Tahun Kudatuli, DPC PDI Perjuangan Sleman Gelar Sarasehan dan Edukasi Anak Muda

Meski Kudatuli merupakan peristiwa berskala nasional, belum tentu seluruh kader & generasi muda saat ini memahami sejarahnya secara detail.

Memperingati 30 Tahun Kudatuli, DPC PDI Perjuangan Sleman Gelar Sarasehan dan Edukasi Anak Muda
​Ketua DPC PDI Perjuangan Sleman yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa.

​Sleman, Gesuri.id — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Sleman menggelar sarasehan peringatan Peristiwa Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli) 1996 di Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Sleman, Minggu (19/7).

​Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap tonggak sejarah perjuangan demokrasi di Indonesia, agenda ini juga difokuskan untuk memperkuat pendidikan politik bagi para kader muda.

​Ketua DPC PDI Perjuangan Sleman yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menegaskan pentingnya kegiatan ini.

Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa

Menurutnya, meski Kudatuli merupakan peristiwa berskala nasional, belum tentu seluruh kader dan generasi muda saat ini memahami sejarahnya secara detail.

​"Kudatuli adalah tonggak bersejarah yang tidak bisa dipisahkan dari kader dan masyarakat. Seiring berjalannya waktu, tokoh penggerak partai pasti berganti dengan kader yang lebih muda. Namun, ideologi dan semangatnya tidak boleh lekang oleh waktu. Warisi apinya, jangan abunya," tegas Danang dalam sambutannya.

​Wakil Ketua Komisi X DPR RI sekaligus politisi senior PDI Perjuangan, MY Esti Wijayati, menjelaskan bahwa sarasehan ini dilaksanakan berdasarkan instruksi Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Peringatan ke-30 tahun ini sengaja dikemas secara khusyuk dan jauh dari kesan hura-hura agar esensi perjuangan demokrasi tetap terjaga.

​Dalam catatannya, peristiwa Kudatuli mengakibatkan 5 orang meninggal dunia, 23 orang hilang, dan 149 orang luka-luka. Esti menambahkan, sarasehan ini juga menjadi momentum untuk mendoakan para pejuang demokrasi, termasuk korban yang mungkin belum terdata secara resmi.

​"Kegiatan ini bertujuan menanamkan ingatan sejarah kepada anak muda agar siap meneruskan perjuangan. Ketika ada hal yang tidak sesuai dan melukai masyarakat, kita tidak boleh diam," ujar Esti.

​Senada dengan hal tersebut, Anggota Komisi VI DPR RI, Totok Hedi Santosa, menyebut Kudatuli sebagai momentum krusial saat demokrasi Indonesia mengalami kebuntuan. Ia mengingatkan bahwa pihak yang terlibat kala itu tidak hanya kader partai, tetapi juga masyarakat luas.

Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo

​"Mulai dari mahasiswa, masyarakat umum, hingga seniman dan budayawan ikut bergerak. Rakyat bersimpati besar pada PDI Perjuangan saat itu," jelas Totok.

​Acara sarasehan diakhiri dengan pemaparan materi sejarah dari dua narasumber:

- ​Aryunadi (Tokoh Senior & Pelaku Sejarah): Membedah krusialnya Kudatuli sebagai tonggak lahirnya demokrasi bangsa serta dampaknya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

- ​Didik Herlambang (Akademisi): Memaparkan secara runtut kronologi peristiwa beserta tokoh-tokoh kunci yang terlibat dalam kerusuhan 27 Juli 1996 tersebut.

Quote