Jakarta, Gesuri.id - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Sleman menggelar sarasehan peringatan tragedi 27 Juli 1996 (Kudatuli) di Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Minggu (2/8) malam.
Acara yang diawali dengan pemutaran film dokumenter ini diselenggarakan sebagai refleksi atas tonggak sejarah perjuangan demokrasi sekaligus sarana penguatan pendidikan politik kader.
Ketua DPC PDI Perjuangan Sleman yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menegaskan bahwa kehadiran para eks pengurus partai dan tokoh masyarakat dalam acara ini merupakan bentuk solidaritas untuk merawat ingatan sejarah bangsa.
Baca: Ini 3 Faktor yang Membuat Ganjar Pranowo Menjadi Capres Terkuat!
Langkah tersebut, menurut Danang, selaras dengan pesan legendaris Presiden Soekarno tentang Jas Merah atau "Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah".
"Ini adalah upaya mengingat salah satu sejarah penting bagi partai yang tidak boleh dilupakan," tegas Danang di hadapan puluhan kader, pengurus anak cabang, ranting, satgas, hingga generasi muda yang hadir.
Danang menerangkan, meski peristiwa Kudatuli berpusat di Jakarta, dampaknya merambat secara nasional dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan demokrasi Indonesia. Tragedi kelam Orde Baru tersebut mencatatkan sedikitnya lima orang meninggal dunia, 23 orang hilang, dan 149 luka-luka.
Namun, ia menegaskan bahwa peringatan ini sama sekali bukan untuk membuka luka lama, melainkan sebagai momen refleksi bersama untuk memperkuat komitmen kerakyatan. Danang mendorong seluruh kader partai berlambang kepala banteng tersebut untuk terjun langsung menjadi "mata dan telinga" masyarakat.
"Peringatan ini menjadi momentum bagi para kader untuk melihat, mendengar, dan merasakan langsung persoalan di tengah warga, lalu hadir membawa solusi. Kami akan bergotong royong menindaklanjuti masalah apa pun, tanpa peduli apa pun hambatannya," ujar Danang optimistis.
Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa
Peringatan Kudatuli di Kabupaten Sleman kali ini terasa spesial karena digelar secara bergiliran di 17 kapanewon, di mana Kapanewon Seyegan menjadi lokasi gelaran ke-15.
Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan Seyegan, Ramelan, menambahkan bahwa peringatan maraton ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kegigihan perjuangan kepada para kader, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa.
"Perjuangan menata negara itu tidak mudah. PDI Perjuangan tetap gigih menghadapi masa-masa sulit saat itu. Semangat inilah yang harus terus diingat dan dijadikan bekal memperjuangkan demokrasi ke depan," ungkap Ramelan.

















































































