Ikuti Kami

Sebut Demokrasi Tak Lahir Begitu Saja, Junarso Minta Pemuda Jepara Bawa Spirit Kudatuli

Kudatuli momentum untuk mengingatkan anak muda bahwa demokrasi lahir dari perjuangan panjang dan pengorbanan besar.

Sebut Demokrasi Tak Lahir Begitu Saja, Junarso Minta Pemuda Jepara Bawa Spirit Kudatuli
​Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jepara, Junarso.

Jakarta, Gesuri.id - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Jepara mengajak generasi muda untuk aktif menjaga dan merawat nilai-nilai demokrasi. 

Imbauan ini disampaikan dalam Sarasehan Peringatan 30 Tahun Peristiwa Kudatuli yang berlangsung di Pondok Makan Numan, Mulyoharjo, Jepara, Rabu (29/7).

​Kegiatan bertema "Dari Kudatuli untuk Indonesia: Merawat Demokrasi dan Menanamkan Ajaran Bung Karno kepada Generasi Muda" ini diikuti sekitar 70 peserta dari berbagai organisasi kepemudaan. Di antaranya GMNI, PMII, BEM Unisnu Jepara, IPNU, dan Komunitas Juang Kabupaten Jepara.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar

​Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jepara, Junarso, menegaskan bahwa peringatan Kudatuli bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, melainkan momentum untuk mengingatkan anak muda bahwa demokrasi lahir dari perjuangan panjang dan pengorbanan besar.

​"Kita memperingati Kudatuli bukan untuk membuka luka masa lalu, melainkan mengambil pelajaran bahwa demokrasi tidak hadir begitu saja. Salah satu motor penting dalam perjuangan itu adalah PDI Perjuangan yang tetap teguh memperjuangkan keadilan dan keberpihakan kepada rakyat," ujar Junarso.

​Mengutip pesan proklamator Bung Karno tentang Jas Merah (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah), Junarso meminta generasi muda tidak bersikap apatis terhadap politik. Menurutnya, politik harus dipandang sebagai instrumen untuk memperjuangkan kepentingan rakyat kecil.

​"Sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan, yang memimpin bangsa ini adalah generasi muda hari ini. Karena itu, persiapkan diri, bangun integritas, dan jangan pernah lelah memperjuangkan kepentingan kaum marhaen," tegasnya.

​Pada sesi materi, Ketua Persatuan Alumni GMNI sekaligus Ketua Komisi D DPRD Jepara, Andi Rokhmat (Andy Andong), mengulas kembali peristiwa penyerbuan Kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 tersebut. Ia menyebut Kudatuli sebagai salah satu pemantik utama yang memicu gelombang besar perjuangan menuju Reformasi 1998.

​Andy juga menyoroti kondisi demokrasi Indonesia saat ini yang dinilainya masih menghadapi sejumlah tantangan. Ia mengutip Democracy Index yang mengategorikan Indonesia sebagai flawed democracy (demokrasi cacat atau memiliki kelemahan).

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

​"Semangat gotong royong adalah kekuatan kita. Demokrasi yang sehat tidak hanya dibangun melalui pemilu setiap lima tahun, tetapi juga melalui kepedulian sosial, solidaritas, dan keberanian membela rakyat kecil," tutur Andy.

​Senada dengan Andy, pemateri kedua, Ahmad Rifa'i (Kang Kocang), menilai kebebasan berpendapat dan berorganisasi yang dinikmati masyarakat saat ini merupakan buah dari peristiwa Kudatuli dan perjuangan panjang demokrasi.

​"Hari ini kita bisa berdiskusi di kampus, membangun organisasi, hingga mengkritik kebijakan pemerintah tanpa rasa takut. Semua itu adalah hasil perjalanan panjang yang harus kita syukuri dan terus kita jaga bersama," ungkap Rifa'i.

​Melalui sarasehan ini, DPC PDI Perjuangan Jepara berharap para pemuda tidak hanya memahami catatan sejarah Kudatuli, tetapi juga membumikan ajaran Marhaenisme dan nilai perjuangan Bung Karno demi mewujudkan Indonesia yang lebih adil dan demokratis.

Quote