Jakarta, Gesuri.id - PDI Perjuangan mengambil langkah strategis dengan membuka akses Sekolah Partai bagi masyarakat luas, khususnya kalangan mahasiswa.
Langkah go public ini menjadi komitmen partai berlambang banteng moncong putih tersebut dalam menjaring dan mencetak calon-calon pemimpin masa depan.
Hal itu disampaikan Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, usai memberikan materi di Sekolah Partai Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2026) petang.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

"Tadi pagi, Sekolah Partai ini go public bagi para mahasiswa. Mereka bebas menyampaikan pemikiran dan aspirasinya," kata Hasto di lokasi.
Hasto menjelaskan, di Sekolah Partai ini, para mahasiswa diberikan ruang seluas-luasnya untuk membedah berbagai persoalan rakyat yang terjadi di lapangan.
Namun, pemikiran kritis tersebut diarahkan agar tetap berada di dalam koridor ideologi, yakni keberpihakan terhadap rakyat kecil atau kaum Marhaen.
Melalui pelatihan dan diskusi tersebut, para mahasiswa dilatih untuk merancang sebuah rumusan kebijakan yang secara riil berpihak pada kepentingan rakyat, bangsa, dan negara.
Hasto menyebutkan bahwa antusiasme dan tanggapan positif mahasiswa yang hadir langsung ke Lenteng Agung telah menumbuhkan optimisme di dalam tubuh internal PDIP.
"Melalui Sekolah Partai inilah, tangan kanan partai melakukan pendidikan politik dan kaderisasi bagi calon-calon pemimpin masa depan," urainya.
Saat disinggung mengenai kaitan program tersebut dengan kaderisasi generasi dan pemanasan mesin politik menuju Pemilu 2029, Hasto pun tak menampik hal tersebut.
Politikus asal Yogyakarta ini lantas menyinggung sejarah kelam masa lalu partai.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
Selama 32 tahun era Orde Baru, PDI saat itu dilarang keras melakukan proses kaderisasi.
"Pembungkaman itu dimulai dari fungsi rekrutmen partai politik yang kemudian dihambat oleh kekuasaan," kata Hasto.
Oleh sebab itu, di era demokratisasi saat ini, PDIP menjadikan Sekolah Partai sebagai mesin utama konsolidasi. Tidak hanya mahasiswa, sekolah ini juga menggembleng calon kepala daerah hingga anggota legislatif.
Tujuannya, partai ingin menjawab kebutuhan zaman dengan melahirkan figur pemimpin yang berkarakter, berintegritas, antikorupsi, serta memiliki desain teknokratik yang pro-rakyat.

















































































