Yogyakarta, Gesurid – Memasuki tujuh hari wafatnya Muhammad Guruh Soekarnoputra, DPD PDI Perjuangan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar tahlil dan doa bersama di Kantor DPD PDI Perjuangan DIY, Jetis, Kota Yogyakarta, Kamis (1/10).
Tahlil dan doa tujuh hari wafatnya putra sang proklamator kemerdekaan Indonesia itu berlangsung khidmat. Acara dihadiri pimpinan dan jajaran fungsionaris PDI Perjuangan DIY, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD DIY, serta puluhan warga sekitar kantor DPD PDI Perjuangan DIY.
Bagi keluarga besar PDI Perjuangan, wafatnya Guruh Soekarnoputra merupakan duka dan kehilangan yang mendalam. Sosoknya dikenal luas sebagai seniman, budayawan, serta politisi yang banyak berkontribusi terhadap perjalanan bangsa Indonesia, khususnya dalam bidang kebudayaan.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
Sebagai putra bungsu Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dan Ibu Fatmawati, Guruh dikenal memiliki kecintaan yang mendalam terhadap seni dan budaya Nusantara. Kecintaan itu ia wujudkan melalui karya-karya musik, tari, dan pertunjukan yang mengangkat kekayaan tradisi Indonesia agar tetap hidup, dikenal, dan dekat dengan generasi muda.
DPD PDI Perjuangan DIY memilih menggelar peringatan tujuh hari wafatnya Guruh Soekarnoputra bersama warga sekitar demi menjaga ingatan masyarakat tentang kiprah mendiang. Guruh Soekarnoputra merupakan sosok yang kerap mempelopori ruang kreatif bagi tumbuh kembang kesenian tradisional.
Melalui kegiatan ini, PDI Perjuangan DIY berharap keteladanan almarhum dapat menjadi inspirasi bagi kader maupun masyarakat luas, terutama dalam menjaga dan melestarikan kesenian tradisional. Yogyakarta sebagai kota budaya dinilai memiliki tanggung jawab besar untuk terus menghidupkan warisan seni yang telah diperjuangkan para pendahulu.

Dalam rangkaian tahlil dan doa bersama, juga disampaikan selayang pandang tentang sosok Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra oleh Wakil Ketua Bidang Politik DPD PDI Perjuangan DIY, Aryunadi. Pemaparan tersebut mengajak hadirin mengenang perjalanan hidup dan pengabdian almarhum.
Menurut Sekretaris DPD PDI Perjuangan DIY, Yan Kurnia Kustanto, tradisi doa bersama sekaligus menjadi cara untuk merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap tokoh dan karya yang pernah memberikan warna dalam perjalanan bangsa.
“Yang ingin kita jaga bukan hanya ingatan tentang seorang tokoh, tetapi juga nilai dan semangat yang beliau perjuangkan. Seni dan kebudayaan adalah bagian penting dari jati diri bangsa yang harus terus dirawat dan dikembangkan, terutama oleh generasi muda,” ujarnya.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo
Yan Kurnia Kustanto juga menyampaikan permohonan izin atas ketidakhadiran Ketua DPD PDI Perjuangan DIY, Nuryadi, karena ada kegiatan lain yang belum bisa ditinggalkan. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga sekitar yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan turut mendoakan almarhum.
“Kehadiran panjenengan semua menjadi penguat bagi kami. Semoga kebersamaan dan silaturahmi antara PDI Perjuangan dengan masyarakat di sekitar kantor ini terus terjaga,” katanya.
Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama bagi almarhum, dengan harapan seluruh amal dan pengabdiannya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan.

















































































