Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi lll DPR RI Mercy Christian Barends menegaskan perayaan Natal di lingkungan Parlemen Senayan harus dimaknai sebagai ruang refleksi mendalam bagi seluruh insan parlemen dalam menunaikan tanggung jawab kebangsaan.
Hal tersebut disampaikannya dalam rangka perayaan Natal Persekutuan Doa Oikumene (PDO) Parlemen Senayan yang digelar sebagai momentum permenungan, bukan sekadar seremoni, di tengah berbagai tantangan bangsa.
“Momen seperti ini adalah forum refleksi kritis bagi kami semua yang ada di Parlemen Senayan untuk melakukan otokritik terhadap diri sendiri terhadap persoalan bangsa, apakah kita sudah menjalankan tugas dan fungsi kita sebagai Anggota DPR sebagai bagian dari Kesekjenan, Staf Pendukung, Staf Ahli, Staf Administrasi, dan sebagainya yang ada di lingkungan Senayan dengan sebaik-baiknya, demi kepentingan bangsa dan negara, dan demi kepentingan masyarakat,” kata Mercy saat konferensi pers di Ruang Pustakaloka, Gedung Nusantara IV DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Mercy yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina PDO menjelaskan, refleksi Natal tahun ini semakin relevan karena bangsa Indonesia tengah dihadapkan pada berbagai persoalan berat, mulai dari bencana alam yang terjadi di berbagai daerah hingga tekanan sosial dan ekonomi yang dialami banyak keluarga. Kondisi tersebut turut mewarnai proses persiapan perayaan Natal PDO yang dipimpin oleh Anggota Komisi III DPR RI Martin Daniel Tumbelaka sebagai Ketua Panitia dan Sudeson Tandra sebagai Sekretaris.
“Kami kemudian memberikan arahan bahwa di tengah-tengah proses yang berjalan ini, kita diterpa dengan bencana di mana-mana situasi-situasi sulit, situasinya faktanya hari ini di tengah tengah pergumulan yang cukup berat keluarga-keluarga terdampak,” ungkapnya.
Dalam konteks tersebut, tema Natal tahun ini, “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Manusia” dengan subtema “Mewujudnyatakan Keadilan dan Kesejahteraan Sosial Bagi Setiap Keluarga”, menurut Mercy bukan sekadar pesan spiritual, melainkan panggilan nyata bagi para pemangku kebijakan untuk menghadirkan keadilan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Jadi, Yesus, Sang Putra Natal, Yesus yang artinya Allah yang menyelamatkan, dan Sang Putra Natal, yang artinya Allah menyertai kita, menegaskan bahwa Allah tidak tinggal jauh sekali di aras ketinggiannya, tetapi Allah ada di tengah-tengah kita, di realitas kesejahteraan kita di tengah-tengah pergumulan paling terberat bangsa hari ini. Entah yang terdampak karena korban bencana, masyarakat adat, masyarakat disabilitas, persoalan-persoalan perempuan dan anak, masalah pendidikan, masalah keadilan, dan sebagainya,” pesannya.
Mercy menekankan bahwa keadilan sosial harus terwujud secara konkret melalui kebijakan, program, dan penganggaran negara. Menurutnya, iman tidak hanya diuji di ruang ibadah, tetapi juga di ruang-ruang pengambilan keputusan yang menentukan arah kehidupan rakyat. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen di lingkungan Senayan—DPR, DPD, dan MPR—untuk terus menumbuhkan kepekaan dan solidaritas sosial, khususnya memasuki tahun 2026.
“Sebagai tiga lembaga yang ada di lingkungan Senayan ini, yang terhimpun di dalam Persekutuan Doa Oikumene ini, sehingga dapat kami sampaikan bahwa memasuki tahun 2026 dan seterusnya ayo kita tetap gotong royong, kita terus mengasah kepekaan dan solidaritas sosial kita. Jangan diam, kita adalah mereka dan mereka adalah kita. Kesulitan mereka juga adalah kesulitan kita,” pungkasnya.

















































































