Jakarta, Gesuri.id - Anggota DPR RI Putra Nababan menegaskan pentingnya mengamalkan nilai Empat Pilar secara kontekstual di tengah tantangan masa kini.
"Empat Pilar ini bukan sekadar hafalan teori di atas kertas, Pak. Justru di tengah tekanan ekonomi dan tajamnya gesekan di media sosial, Pancasila, khususnya sila kelima Keadilan Sosial dan sila ketiga Persatuan Indonesia, hadir sebagai pengingat jiwa gotong royong kita," ujar Putra Nababan, dalam sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar pada Sabtu (15/8/2026).
Putra Nababan juga menekankan perlunya perubahan strategi dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda agar relevan dengan perkembangan zaman.
"Untuk anak-anak muda zaman now, pendekatan Empat Pilar tidak bisa lagi dengan cara ceramah atau hafalan pasal UUD 1945. Mereka butuh keteladanan dan ruang aksi nyata," tegas Putra Nababan.
Ia menambahkan dua poin utama dalam menerapkan nilai kebangsaan bagi generasi muda yaitu Bhinneka Tunggal Ika lewat ruang kreatif dan etika berbangsa di dunia digital.

Putra mengajak generasi muda terlibat dalam kegiatan lingkungan dengan cara mereka. Ia mencontohkan membuat konten digital positif tentang keberagaman budaya lokal, atau mengelola kegiatan kepemudaan (Karang Taruna) berbasis minat seperti olahraga dan seni.
"Tunjukkan bahwa menjadi warga negara yang baik saat ini berarti tidak menyebarkan hoax, tidak melakukan cyberbullying, dan menghargai perbedaan pendapat di media sosial. Nilai-nilai Pancasila itu dimasukkan dalam etika ber-internet mereka sehari-hari," ujar Putra.
Dalam sesi tanya jawab, salah seorang peserta menyampaikan keresahannya terkait kondisi sosial dan ekonomi saat ini.
"Kondisi sekarang ini terasa makin berat secara ekonomi, ditambah lagi kalau buka media sosial isinya debat politik yang saling menghujat dan bikin emosi. Kadang warga di bawah jadi ikut-ikutan terpecah dan apatis. Apakah sosialisasi Empat Pilar seperti ini masih membumi dan bisa memberikan solusi nyata buat masalah perut dan ketenangan warga di bawah?" tanya peserta tersebut.
Tidak hanya masalah ekonomi dan persatuan, kekhawatiran mengenai pola asuh dan etika generasi muda di era digital juga turut dipertanyakan oleh peserta lain.
"Terkait anak-anak muda zaman sekarang. Mereka kan hidup di era digital, mainannya gadget, dan kadang terpengaruh budaya luar sampai kurang padu sama tetangga atau kurang paham nilai kebangsaan. Bagaimana cara kami para orang tua mengenalkan Empat Pilar ini ke generasi muda tanpa terkesan menggurui atau membosankan?" ungkapnya.

















































































