Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Rudianto Tjen, menyoroti masih adanya warga lanjut usia di pelosok Kepulauan Bangka Belitung (Babel) yang bertahun-tahun hidup dengan gangguan penglihatan akibat katarak karena keterbatasan biaya dan minimnya akses informasi.
Ia menegaskan kehadiran kader di tengah masyarakat sangat penting agar warga yang membutuhkan bantuan kesehatan tidak luput dari jangkauan program sosial.
"Beliau mau, beliau takut, tapi nggak ada yang sosialisasi, nggak ada yang proaktif untuk menjemput mereka dan sebagainya," ungkap Rudianto Tjen saat ditemui di sela-sela kegiatan di Sungailiat, dikutip Rabu (28/10/2026).
Rudianto menceritakan pengalaman seorang kakek berusia di atas 60 tahun yang selama kurang lebih dua tahun mengalami gangguan penglihatan akibat katarak.
Kondisi ekonomi yang terbatas membuat biaya operasi menjadi kendala besar, sementara minimnya sosialisasi dan pendampingan membuat sang kakek kesulitan mengakses layanan pengobatan.
Biaya operasi katarak yang diperkirakan mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta per mata menjadi beban berat bagi warga dengan keterbatasan ekonomi. Di tengah kondisi tersebut, rasa takut menjalani tindakan medis turut membuat sang kakek belum mendapatkan penanganan yang dibutuhkan.
Kisah tersebut terungkap ketika kader PDI Perjuangan di Kepulauan Bangka Belitung bersama tim Rudi Center melakukan skrining kesehatan di wilayah masing-masing. Dari proses itu, mereka menemukan bahwa masih ada warga yang membutuhkan bantuan, tetapi belum tersentuh informasi maupun pendampingan untuk mengakses layanan kesehatan.
Bagi Rudianto, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kerja kemanusiaan tidak cukup hanya dengan menyediakan program. Para kader juga harus aktif mendatangi masyarakat, memahami persoalan yang mereka hadapi, dan membantu menghubungkan warga dengan layanan yang dibutuhkan.
Ia menegaskan, hal tersebut sejalan dengan arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar kader senantiasa hadir dan merasakan langsung kehidupan masyarakat.
"Kita harus sebagai kader PDI Perjuangan, kita harus di tengah-tengah masyarakat, tertawa bersama rakyat, menangis bersama rakyat, dan kita tahu apa masalahnya di tengah-tengah mereka," tegasnya.
Berkat gerak cepat tim di lapangan, sang kakek akhirnya didaftarkan untuk mendapatkan tindakan medis yang dibutuhkan. Pendampingan tersebut menjadi langkah awal untuk membantu menjembatani keterbatasan biaya, akses informasi, dan kekhawatiran yang selama ini menghambatnya memperoleh pengobatan.
*Rudianto ingin perjuangan kemanusiaan berlanjut lintas generasi*
Bagi Rudianto, membantu warga mendapatkan kembali penglihatannya bukan sekadar menyelesaikan persoalan kesehatan satu orang. Ia ingin kegiatan kemanusiaan seperti ini menjadi gerakan berkelanjutan yang terus menjangkau masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di pelosok dan belum mengetahui adanya layanan bantuan.
Sebagai penggagas Yayasan Rudi Center, Rudianto juga berupaya menanamkan nilai kepedulian sosial kepada keluarganya. Dalam sebuah kesempatan, ia sengaja mengajak istri dan anaknya untuk melihat langsung proses pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Langkah tersebut dilakukan agar generasi berikutnya memahami pentingnya membantu sesama dan meneruskan kegiatan sosial yang telah berjalan, bahkan ketika dirinya tidak lagi aktif dalam politik.
"Saya ingin dia tumbuh keinginan juga untuk melayani seperti ini. Walaupun nanti saya pensiun, saya mungkin tidak aktif lagi di politik karena rencana saya memang tidak akan mencalonkan diri lagi bahwa ada generasi selanjutnya yang meneruskan program ini," ucapnya.
Menurut Rudianto, keberlanjutan program kemanusiaan membutuhkan kepedulian yang konsisten dan keterlibatan banyak pihak. Karena itu, kader dan relawan diharapkan tidak hanya menunggu warga datang meminta bantuan, tetapi juga proaktif mengidentifikasi persoalan serta mendampingi masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
Kisah seorang kakek penderita katarak di Bangka Belitung tersebut menjadi pengingat bahwa akses terhadap layanan kesehatan tidak hanya bergantung pada tersedianya fasilitas dan program, tetapi juga pada upaya menjangkau masyarakat secara langsung.
Melalui pendampingan dan sosialisasi yang lebih aktif, warga yang selama ini terkendala biaya, informasi, maupun rasa takut diharapkan dapat memperoleh kesempatan untuk mendapatkan penanganan medis. Bagi masyarakat yang lama hidup dalam keterbatasan penglihatan, bantuan tersebut bukan sekadar akses terhadap pengobatan, melainkan juga harapan untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.

















































































