Bangkalan, Gesuri.id - Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bangkalan, Farida Triastutik, mengajak anak muda dan masyarakat untuk menjadi bagian dari gerakan aksi iklim melalui penguatan ketahanan pangan keluarga. Langkah tersebut dinilai penting untuk menghadapi dampak perubahan iklim, termasuk ancaman El Nino yang dapat menekan sektor pertanian dan ketersediaan pangan.
“Saat ini kita tengah menghadapi tantangan cuaca El Nino yang berdampak pada sektor pertanian. Karena itu, kami mengajak masyarakat untuk mulai mengoptimalkan lahan yang ada dengan menanam tanaman pendamping beras seperti jagung dan ketela,” ujar Bendahara DPC PDI Perjuangan Bangkalan, Farida Triastutik.
Farida mengatakan, pemanfaatan lahan untuk menanam pangan alternatif bukan sekadar langkah menghadapi ancaman gangguan produksi beras. Menurut dia, gerakan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian pangan dari tingkat keluarga hingga desa, sekaligus mendorong masyarakat kembali melihat potensi pangan yang tumbuh di tanah sendiri.
Menurut dia, langkah ini sebagai upaya mengurangi kebergantung pada komoditas beras. Selain menjaga kedaulatan pangan di tingkat desa, tambah dia, konsumsi pangan lokal non-beras juga sangat baik untuk diversifikasi gizi keluarga.
Semangat tersebut sekaligus menempatkan anak muda sebagai aktor penting dalam menghadapi krisis iklim. Bagi Farida, isu lingkungan tidak berhenti pada kampanye pengurangan emisi atau pelestarian alam, tetapi juga menyangkut bagaimana masyarakat mampu menjaga sumber pangan, mengelola lahan secara berkelanjutan, dan membangun sumber penghidupan yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.
Farida juga menegaskan, aksi tanam tanaman pendamping beras ini merupakan instruksi DPP Partai untuk selalu hadir di tengah rakyat, terutama dalam mencari solusi atas potensi krisis pangan akibat perubahan iklim.
Gerakan tersebut sejalan dengan gagasan Eco-Sovereignty & Sustainable Livelihood, yakni memadukan pelestarian lingkungan hidup dengan penguatan kedaulatan pangan alternatif. Gagasan itu mendorong anak muda untuk tidak hanya menjadi penonton dalam agenda transisi hijau, tetapi turut menciptakan solusi konkret melalui pengelolaan lahan, pangan, dan lingkungan di tingkat lokal.
Di tengah meningkatnya perhatian generasi muda terhadap isu pekerjaan ramah lingkungan atau Green Jobs, gerakan pangan berkelanjutan juga membuka ruang bagi anak muda untuk mengembangkan aktivitas ekonomi yang selaras dengan kelestarian lingkungan. Pertanian berkelanjutan, pengolahan pangan lokal, hingga pengembangan rantai nilai komoditas alternatif dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi hijau di tingkat daerah.

“Kami ingin memastikan bahwa ketahanan pangan kita tetap terjaga. Penanaman ini adalah simbol sekaligus edukasi bahwa kita punya alternatif pangan yang melimpah di tanah sendiri,” tandasnya.
Diversifikasi pangan menjadi semakin relevan di tengah tingginya ketergantungan masyarakat terhadap beras. Indonesia sendiri memiliki beragam sumber pangan alternatif yang dapat dikembangkan, mulai dari singkong, ubi, jagung, sorgum, hingga sagu. Penguatan pangan lokal tersebut tidak hanya dapat memperluas pilihan konsumsi, tetapi juga menjadi strategi untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap tekanan perubahan iklim dan gejolak pasokan pangan.
Bagi Farida, semangat menjaga pangan juga merupakan bagian dari menjaga tanah air. Sumpah untuk “bertanah air satu” dapat diterjemahkan dalam tindakan nyata dengan merawat tanah, menjaga ekosistem, serta mengurangi ketergantungan terhadap sumber pangan dari luar.
Farida berharap, kegiatan ini memotivasi anak muda dan masyarakat di Bangkalan untuk melakukan hal serupa demi mengantisipasi dampak buruk perubahan iklim.
Gerakan tersebut diharapkan berkembang dari aksi tanam sederhana menjadi gerakan bersama yang melibatkan keluarga, komunitas, desa, serta generasi muda. Dengan demikian, ketahanan pangan tidak hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi menjadi gerakan masyarakat untuk membangun kedaulatan pangan sekaligus memperkuat ketahanan menghadapi krisis iklim global.
Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

















































































