Jakarta, Gesuri.id - Narasi tentang pertumbuhan ekonomi nasional dan klaim "masa depan cerah" dinilai berbenturan keras dengan kenyataan pahit yang dihadapi generasi muda di tingkat tapak.
Kondisi tersebut memicu kritik keras dari Organisasi Sayap PDI Perjuangan, Taruna Merah Putih (TMP) Jakarta Timur.
Plt. Wakil Ketua Bidang Komunikasi, Informasi, dan Media DPC TMP Jakarta Timur, Alvin Cahya Pratama, menegaskan bahwa fenomena tingginya angka pengangguran, lonjakan harga bahan pokok, serta biaya hidup yang kian tak terjangkau merupakan bukti nyata kegagalan kebijakan pemerintah dalam melindungi generasi muda.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
"Jika kita turun langsung ke kawasan Cakung, Pulogadung, hingga Cipayung, narasi besar soal ekonomi yang tumbuh mendadak kehilangan wujudnya. Yang kita temui bukanlah optimisme, melainkan kecemasan berlapis dari anak-anak muda," ujar Alvin dalam pemaparannya.
Alvin menyoroti kawasan Jakarta Timur sebagai wilayah dengan konsentrasi penduduk usia produktif dan kawasan industri terbesar di DKI Jakarta. Menurutnya, wilayah ini seharusnya menjadi barometer kesejahteraan. Namun faktanya, pemuda Jaktim justru terbenteng oleh pengangguran massal, program pelatihan kerja yang kaku dan tidak relevan dengan kebutuhan industri modern, serta standar Upah Minimum Provinsi (UMP) yang tertinggal jauh dari laju inflasi.
"Bagi fresh graduate di Jakarta Timur, memiliki hunian yang layak hari ini bukan lagi sekadar impian, melainkan kemewahan yang makin mustahil dicapai," tegasnya.
Tak hanya mengritik kebijakan daerah, Alvin juga memberikan catatan menohok terhadap jargon "keterwakilan anak muda" di tingkat kepemimpinan nasional. Kehadiran figur muda di puncak kekuasaan, seperti Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dinilai belum memberikan dampak nyata bagi penyelesaian krisis struktural yang dialami pemuda di akar rumput.
"Representasi anak muda di pemerintahan tidak boleh berhenti pada faktor usia atau sekadar gimik dan etalase simbolis di atas kertas. Ketika seorang pemimpin muda berada di lingkar kekuasaan tertinggi tetapi gagal menjawab krisis pengangguran dan upah murah, maka kehadiran simbolik itu kehilangan legitimasi moralnya," tutur Alvin.
Ia menambahkan, jika representasi figur muda di tingkat nasional tidak mampu membongkar sulitnya lapangan kerja, hal tersebut bukan lagi bentuk keterwakilan, melainkan pengkhianatan terhadap keresahan generasi muda.
Menghadapi situasi ini, DPC TMP Jakarta Timur menegaskan komitmennya untuk tidak menjadi sekadar "stempel politik" atau pembenar atas kebijakan yang salah sasaran. Alvin menyerukan agar kader muda partai tetap menyuarakan kritik objektif demi memperjuangkan nasib rakyat.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Sebagai langkah konkret, TMP Jakarta Timur menawarkan tiga poin solusi strategis:
1. Desentralisasi Pusat Karier Vokasi: Mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menyediakan pusat pelatihan kerja berbasis digital dan industri kreatif hingga ke tingkat kecamatan dan kelurahan di Jakarta Timur.
2. Intervensi Biaya Hidup Urban: Menuntut perluasan subsidi transportasi publik yang terintegrasi ke permukiman padat serta penyelenggaraan operasi pasar sembako murah secara berkala untuk pekerja berpenghasilan rendah.
3. Koreksi Total Kebijakan Pusat: Mendorong evaluasi total atas program penciptaan lapangan kerja nasional agar benar-benar berdampak langsung pada masyarakat kelas bawah.
"Keluhan tanpa solusi hanya akan menjadi buih di udara. Anak muda partai harus punya nurani, daya kritis, dan keberanian untuk merumuskan jalan keluar taktis demi masa depan generasi kita," pungkas Alvin.

















































































