Surabaya, Gesuri.id - Diana Amaliyah, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Fraksi PDI Perjuangan mengajak generasi milenial membantu gerakan melawan lupa dan memperluas informasi kepada publik mengenai adanya mahasiswa aktivis 98 yang dinyatakan hilang hingga sekarang.
Baca: 248 Kecelakaan Transjakarta, Ada Ancaman ke Sopir
Salah satu cara yang mudah, sebut legislator yang lekat dengan sapaan Diana Sasa ini, dengan memviralkan film Herman dan Bimo lewat berbagai platform digital, atau media sosial (medsos) yang menjadi dunianya anak zaman sekarang.
“Kita membutuhkan kesediaan dan kesadaran kalangan milenial untuk ikut andil menyebarkan film ini sebagai bentuk perluasan informasi tentang kasus penculikan mahasiswa, hingga penghilangan paksa beberapa kawan yang hingga sekarang tiada kejelasan penanganan kasusnya itu, melalui medium media sosial,” ujar Sasa, Kamis (9/12).
Aktivis PMII saat masih kuliah di Unesa Surabaya ini menyebut, ada gap informasi antara peristiwa sejarah era reformasi dengan anak muda zaman sekarang.
“Mereka mungkin tahu peristiwanya, tapi tidak paham persoalannya. Atau bahkan banyak yang tidak tahu sama sekali kalau ada mahasiswa yang hilang dan hingga kini tidak jelas nasibnya itu,” sebutnya.
Dia memahami, eranya memang berbeda, sehingga jalur penyerapan informasi juga sudah jauh berbeda. Menurutnya, anak muda sekarang dekat dengan gadget, teknologi, dan informasi yang serba cepat.

“Maka jika ingin memasukkan informasi masa lalu agar mereka tidak ahistori, ya harus menggunakan medium yang dekat dengan dunia mereka,” tandasnya.
Dalam diskusi itu, Diana Sasa membeberkan pengalaman yang tak bisa dia lupakan saat berencana membuat buku tentang Herman beberapa tahun silam.
“Sewaktu saya mewawancara Ibunda Herman ketika beliau masih hidup, saya menyaksikan beliau setiap hari diam duduk di depan pintu rumah. Jika ditanya beliau menjawab ‘Menunggu Herman pulang’. Ini benar-benar memilukan bagi saya. Betapa beratnya dampak psikis orang tua yang kehilangan anaknya,” kenangnya.
Hal senada juga disampaikan Ketua Gusdurian Jawa Timur, Yuska Harimurti saat diskusi. Dia mengatakan setiap generasi punya tanggung jawab untuk meluruskan sejarah.
“Menjadi tanggung jawab kita untuk menyampaikan informasi apa yang telah terjadi agar tidak terulang kembali. Bahwa negara kita juga punya catatan kelam,” ujar Yuska.
Baca: Tiga Direksi Transjakarta Ini Harus Segera Dicopot
Pemutaran film Herman dan Bimo dalam diskusi ini digagas Pusmira (Pusat Studi Informasi Masyarakat Indonesia).
Film ini menceritakan tentang Herman Hendrawan dan Bimo Petrus Anugerah mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang juga aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Keduanya aktif dalam pergerakan menuntut reformasi di rezim orde baru.
Di tengah upayanya menuntut reformasi, kedua aktivis ini dihilangkan paksa dan sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya. Dilansir dari pdiperjuanganjatim.

















































































