Ikuti Kami

Donald Trump Dilanda Dialektikanya Sejarah

Oleh: Ketua Dewan Ideologi DPP PA GMNI/Pemerhati Sosial, Guntur Soekarno

Donald Trump Dilanda Dialektikanya Sejarah
Ketua Dewan Ideologi DPP PA GMNI/Pemerhati Sosial, Guntur Soekarno

Jakarta, Gesurii.id - Dalam ambisinya membekuk Iran, Trump memperkirakan dalam 5 sampai dengan 7 minggu Iran sudah tekuk lutut dan perdamaian ala Trump akan terwujud.

Namun apa mau dikata perang yang hingga saat ini sudah berlangsung 7 hari belum menunjukkan tanda-tanda bahwa Iran akan Tekuk lutut. Bahkan sebaliknya kini Iran yang mengambil inisiatif menghantam tentara Israel yang didukung oleh Amerika Serikat (Baca : Donald Trump).

Memang Iran di era Ali Khamenei di bawah kepemimpinan presiden Hassan Rouhani sudah menyatakan secara terbuka bahwa sistem politik kepemimpinan demokrasi barat saat ini sudah bangkrut oleh sebab itulah Iran menolak berlakunya demokrasi liberal ala amerika di Iran.

Iran menganut suatu sistem demokrasi khas Iran dimana negara berada di bawah kepemimpinan spiritual Ayatollah Ali Khamenei yang membawahi seorang Presiden dalam pemerintahan yang di saat itu dipimpin oleh Presiden Hassan Rouhani.

Menggunakan sistem ini Iran mengalami kemajuan-kemajuan spektakuler terutama di bidang pertahanan dengan mengadakan alutsista yang super modern di samping sistem moneter yang handal untuk mendukung jalannya revolusi Islam Iran.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar

Hal tersebut terlihat dalam perang melawan invasi Israel Amerika inisiatif serangan tidak lagi dipegang oleh pihak Israel Amerika melainkan oleh pihak Iran.

Bukti pertama yang spektakuler adalah bobolnya kubah baja (Iron Dome) yang melindungi Ibukota Israel yang di bangga-banggakan oleh pihak Israel tak mungkin ditembus oleh rudal ataupun drone tipe apapun.

Terbukti dengan rudal Shahed buatan Iran, Iron Dome bobol dan Tel Aviv tidak lagi 100% terlindungi.

Begitu pula untuk melawan rudal rudal Israel yang merupakan bantuan dari Amerika Serikat Iran menghajarnya dengan rudal hipersonik Fattah 1 dan Fattah 2 yang mampu melesat dengan kecepatan 5 kali kecepatan suara sehingga tidak dapat dilawan oleh rudal-rudal Israel yang berkecepatan supersonik satu kali kecepatan suara bahkan rudal Tomahawk Amerika Serikat pun tidak dapat menghancurkan rudal-rudal hipersonik Iran!

Situasi ini sedikit banyak telah membuat Donald Trump pusing kepala mencari solusi untuk mengatasinya termasuk di dalamnya mengambil inisiatif mendirikan Board of Peace (BOP) di mana secara mengejutkan dan membuat heran Indonesia spontan saja duduk di dalamnya tanpa penjelasan-penjelasan yang jelas dan masuk akal dari Presiden.

Lebih-lebih lagi setelah Israel tiba-tiba saja duduk pula di BOP nya Trump. Indonesia yang sejak era Presiden Sukarno selalu anti Israel kini harus duduk di dalam satu badan “internasional” ala Trump yang di dalamnya ada Israel.

Baca: Ganjar Pranowo Tekankan Pentingnya Kritik 

Melihat kondisi tersebut maka seluruh kekuatan patriotik Sukarnois mendesak pemerintah dalam hal ini Presiden agar segera keluar dari BOP. Bukan hanya kekuatan patriotik Sukarnois Melainkan elemen-elemen progresif dari massa Islam; organisasi-organisasi Islam seluruhnya juga menghendaki Indonesia keluar dari BOP Trump dan fokus berjuang membela Iran melawan serangan konyol yang dilakukan oleh Israel dan Amerika.

Proses dialektik sejarah pasti terjadi

Di dalam negeri Amerika Serikat Jangan dianggap apa-apa yang terjadi tidak mendapatkan sorotan tajam. 

Menurut analisa penulis ke depan akan terjadi proses dialektika sejarah yaitu apa-apa yang dilakukan oleh Donald Trump nyatanya telah membawa masalah terutama perekonomian dalam negeri di Amerika yang membuat nilai US Dollar anjlok serta membuat harga bahan bakar melambung mencapai 1,30 USD/Liter.

Saat ini masyarakat Amerika mayoritas dalam keadaan susah dan menghendaki Perbaikan segera.
Tapi apa mau dikata Iran yang kini telah mengambil inisiatif dalam perang menekan terus-menerus Trump dengan hujan rudal hipersonik dan drone - drone di berbagai kawasan strategis Amerika Serikat di Timur Tengah bila hal tersebut tidak dapat dihentikan oleh Trump dan terus berlangsung menurut analisa penulis maka secara dialektis dukungan domestik akan berbalik menjadi oposisi untuk Trump

Sebagian besar partai Republik akan berbalik menentang Trump dan Partai Demokrat Lebih-lebih lagi akan menjadi oposisi dan puncaknya adalah Presiden Donald Trump akan di impeach oleh seluruh kekuatan-kekuatan oposisi tadi dan terguling.

Penggantinya? Besar kemungkinan Kamala Harris yang sejak lama sudah pasang kuda-kuda untuk maju sebagai pengganti Donald Trump.

Penulis berdoa semoga saja hal tersebut terjadi!

Jakarta 8 Maret 2026

Quote