Ikuti Kami

Adisatrya Sulisto Minta PT Taspen Kawal Kasus Investasi Bodong, Libatkan Oknum Karyawan Bank Mandiri Taspen

Adi: Manajemen Taspen agar ikut mengawal walaupun kejadiannya di Bank Mandiri Taspen, bukan di PT Taspen.

Adisatrya Sulisto Minta PT Taspen Kawal Kasus Investasi Bodong, Libatkan Oknum Karyawan Bank Mandiri Taspen
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto.

Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto, meminta manajemen PT Taspen (Persero) ikut mengawal secara ketat penanganan kasus dugaan penipuan investasi bodong yang melibatkan belasan oknum karyawan Bank Mandiri Taspen, Kantor Cabang Purwokerto, Banyumas. Menurutnya, kasus tersebut telah merugikan banyak nasabah, khususnya para pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN). Pernyataan itu disampaikan usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Direksi PT Taspen dan PT Asabri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta..

“Kami menegaskan kembali, meminta manajemen Taspen untuk ikut mengawal ini walaupun memang ini kejadiannya di Bank Mandiri Taspen ya bukan di PT Taspen,” kata Adi, dikutip Sabtu (11/7/2026).

Dalam rapat tersebut, Adi juga meminta Direktur Utama PT Taspen untuk memastikan para pensiunan yang menjadi korban memperoleh pendampingan sehingga hak-hak mereka dapat dipulihkan secepatnya.

“Kebetulan tadi ada Dirut Taspen di sini, jadi saya menyampaikan, ‘Tolong kasus ini juga dikawal, tolong para pensiunan ini difasilitasi apa yang mereka perlukan’. Jadi kami hanya menegaskan kembali supaya pensiunan-pensiunan ini bisa mendapatkan haknya kembali, itu saja,” tuturnya.

Adi mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, para oknum karyawan yang diduga terlibat kini telah diproses oleh aparat penegak hukum dan tengah menjalani proses hukum lebih lanjut.

“Sekarang saya dengar (para pelaku) sudah ditahan oleh APH, mungkin lagi perlengkapan berkas untuk nantinya diadili,” ungkap Adi.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kelompok pensiunan merupakan kalangan yang sangat rentan menjadi sasaran berbagai modus penipuan, terutama karena keterbatasan akses terhadap informasi dan tingginya tingkat kepercayaan kepada pihak yang dianggap resmi.

“Para pensiunan ini kan kelompok yang sangat rentan. Rentan terhadap misinformasi, rentan terhadap hal-hal negatif seperti penipuan. Karena mereka kan rata-rata orang-orang polos, ya,” jelasnya.

Menurut Adi, kedekatan antara nasabah pensiunan dengan petugas bank saat menerima dana pensiun kerap dimanfaatkan oleh oknum untuk menawarkan investasi dengan iming-iming keuntungan besar.

“Jadi mereka kalau ditawarkan sesuatu apalagi yang menggiurkan, yang bisa menghasilkan keuntungan mereka pastinya tertarik karena pensiunan kan uang-uang ekstra tambahan mereka sangat mengharapkan dan mereka juga bukan orang yang mungkin kelompok yang punya akses informasi yang valid,” bebernya.

“Jadi sangat gampang dimanipulasi, dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Ya ini salah satu contohnya yang kejadian di Purwokerto,” lanjut Adi.

Karena itu, Komisi VI DPR RI mendorong manajemen Bank Mandiri Taspen maupun seluruh BUMN yang mengelola dana pihak ketiga untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola perusahaan, sistem pengawasan internal, serta manajemen risiko guna mencegah kasus serupa terulang.

“Ya harus di review total tata kelola perusahaan, bagaimana hubungan antara karyawan dengan nasabah bagaimana proses pencairan kredit, bagaimana informasi itu disampaikan. Jadi hal-hal ini semua perlu dicek lagi oleh manajemen, perlu ditata lagi mana celah yang ada kemungkinan untuk oknum bermain di sistem perusahaan,” urainya.

“Nah disinilah diperlukan peningkatan dari segi risiko, manajemen risiko di internal Bank Taspen dan semua BUMN yang sifatnya mengelola dana dari pihak ketiga, dari nasabah ini perlu benar-benar mengawasi internalnya supaya lebih kuat lagi,” kata Adi.

Di akhir keterangannya, Adi mengimbau seluruh pensiunan agar selalu berhati-hati terhadap berbagai tawaran investasi dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum dipastikan kebenarannya.

“Pesan kami, kepada Bapak-Ibu pensiunan untuk selalu hati-hati dalam menerima informasi. Dicek dulu, diverifikasi dulu, tidak hanya ke satu pihak, tapi ke beberapa pihak, ya,” ujar Adi.

Ia juga mengingatkan bahwa modus penipuan saat ini semakin berkembang, baik melalui pertemuan langsung maupun secara digital melalui berbagai aplikasi di telepon pintar.

“Kita harus tahu betul bahwa sekarang ini, modus-modus penipuan itu sudah semakin canggih. Jangan cepat percaya dengan siapa pun, ya. Cek and re-check lagi, jangan ke satu pihak saja, tapi ke beberapa pihak, supaya mereka benar-benar mendapatkan informasi yang terbaik sebelum melakukan keputusan investasi,” pungkasnya.

Quote