Semarang, Gesuri.id — Upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat di Kota Semarang terus digencarkan melalui pemanfaatan lingkungan sekitar rumah. Melalui program Budidaya Pekarangan Pangan dan Gizi (Bulir Padi), warga diajak untuk mengoptimalkan lahan pekarangan sebagai sumber pangan mandiri keluarga, mulai dari penanaman tanaman pangan, budidaya ikan lele, hingga pemeliharaan ayam petelur di tingkat rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW).
Inisiatif tersebut ditekankan untuk membangun ketahanan pangan yang tidak hanya bergantung pada intervensi harga bahan pokok dari pemerintah, melainkan juga bertumpu pada kemandirian masyarakat di tingkat rumah tangga.
"Kita perlu membangun 'rumah pangan' mandiri dari tingkat keluarga untuk mengantisipasi potensi gejolak maupun tantangan ekonomi di masa depan," ujar Agustina.
Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres
Pemanfaatan pekarangan melalui program Bulir Padi dirancang sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketersediaan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah. Program ini berjalan beriringan dengan intervensi stabilisasi harga melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) lewat skema Kempling Semar.
Jika Bulir Padi berfokus pada penguatan kapasitas produksi pangan di tingkat akar rumput, maka GPM hadir untuk memastikan keterjangkauan daya beli masyarakat terhadap bahan pokok utama.
Berdasarkan data catatan operasional sepanjang Januari hingga Agustus 2026, pelaksanaan GPM di Kota Semarang telah menjangkau 1.085 titik dengan total omzet mencapai Rp5,013 miliar. Khusus untuk pelaksanaan GPM serentak di tingkat RW sepanjang Agustus 2026, program ini berhasil menjangkau 729 dari total 1.532 RW yang ada di kota tersebut.
Dalam penyalurannya, program ini telah mendistribusikan sebanyak 80 ton beras SPHP dan 35.040 liter minyak goreng, di samping berbagai komoditas pangan esensial lainnya.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo
Tingginya antusiasme warga terlihat dari cepatnya penyerapan sejumlah komoditas pangan murah di lapangan. Melalui dialog daring yang dilakukan bersama perwakilan dari 16 kecamatan, tercatat bahwa komoditas beras dan telur menjadi kebutuhan pokok yang paling cepat habis terserap oleh masyarakat.
Melihat tingginya animo tersebut, Agustina mendorong agar pelaksanaan GPM melalui Kempling Semar dapat diintensifkan secara berkala. Ia berharap program intervensi pasar murah ini tidak hanya bersifat insidental, melainkan dapat diselenggarakan secara konsisten sekurang-kurangnya sekali dalam sepekan.
Langkah penguatan ketahanan pangan ganda ini turut mendapat apresiasi positif dari Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari. Ia menilai bahwa inovasi Kempling Semar sangat efektif dalam mendekatkan akses pangan kepada masyarakat serta berperan penting dalam menjaga stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga di tingkat regional.

















































































