Ikuti Kami

Anas Karno Minta Pemkot Surabaya Kawal Bisnis Gen Z Kampung: Jangan Cuma Manis di Awal

Program ini butuh pendampingan intensif dari hulu ke hilir agar bisnis anak muda tidak "mati suri" setelah dana stimulan cair.

Anas Karno Minta Pemkot Surabaya Kawal Bisnis Gen Z Kampung: Jangan Cuma Manis di Awal
Sekretaris Komisi A DPRD Kota Surabaya, Anas Karno.

Surabaya, Gesuri.id  — Sekretaris Komisi A DPRD Kota Surabaya, Anas Karno, mengapresiasi dan mendukung penuh program pemberdayaan Generasi Z (Gen Z) berbasis kampung yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. 

Meski begitu, ia memberikan catatan kritis: program ini butuh pendampingan intensif dari hulu ke hilir agar bisnis anak muda tidak "mati suri" setelah dana stimulan cair.

DPRD Kota Surabaya sendiri telah menyetujui penganggaran program ini melalui APBD 2026, termasuk alokasi dana khusus kepemudaan sebesar Rp47 miliar. Lewat program tersebut, kelompok maupun individu Gen Z mendapatkan stimulan akumulatif hingga Rp5 juta per bulan per kampung yang disalurkan melalui pihak kecamatan.

Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo

Hasilnya pun mulai terlihat. Di sejumlah wilayah, Gen Z sukses menggerakkan roda ekonomi lokal lewat pelbagai usaha rintisan—mulai dari budi daya lele, produksi telur asin, pembuatan parfum, jasa sablon, cuci motor, hingga pengelolaan bank sampah dan komposter.

“Kemandirian fiskal ini berhasil diciptakan oleh para Gen Z di tingkat kampung. Kami sangat mengapresiasi rintisan usaha yang sudah berjalan dan mulai menghasilkan cuan setiap bulan,” ujar Anas Karno di Surabaya, dikutip Selasa (22/9).

Meski mengapresiasi capaian awal tersebut, politisi PDI Perjuangan ini mengingatkan bahwa kucuran anggaran tidak akan berdampak maksimal jika tidak diimbangi pendampingan yang serius. Pasalnya, mayoritas Gen Z yang terlibat belum memiliki bekal dan pengalaman kewirausahaan yang matang.

Menurut Anas, tantangan terberat bagi pelaku usaha pemula bukanlah menciptakan produk, melainkan menembus pasar.

“Bagi yang berhasil menciptakan produk, menjual adalah tantangan terbesar. Namun, saya yakin pada era media sosial yang kuat saat ini, pasar bisa diciptakan selama kualitas produknya bagus,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia mendesak agar materi pendampingan diarahkan langsung pada kebutuhan riil di lapangan. Selain teknis produksi, para pemuda kampung perlu dibekali kemampuan manajemen usaha, strategi pemasaran, hingga optimalisasi media sosial untuk memperluas jangkauan pembeli.

Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa

Anas menegaskan bahwa investasi anggaran Pemkot Surabaya harus melahirkan unit bisnis yang mandiri, berdaya saing, dan berumur panjang. Jangan sampai program ini sekadar mengejar kuantitas pembentukan usaha baru yang akhirnya gugur begitu dukungan stimulan berakhir.
Ia menggarisbawahi pentingnya konsistensi agar bisnis Gen Z benar-benar berakar di tingkat kampung.

“Keberlanjutan ini menjadi concern utama. Tidak sekadar berhasil membuat usaha, tapi kudu mlaku, lumintu (harus berjalan dan terus-menerus). Dengan begitu, pengangguran bisa dikikis dari kampung,” pungkasnya.

Anas optimistis, jika pendampingan dilakukan secara konsisten, program ini tidak hanya memicu perputaran ekonomi baru, tetapi juga menyerap tenaga kerja lokal. Pada akhirnya, kampung di Surabaya tak lagi sekadar tempat tinggal, melainkan menjelma menjadi pusat kreativitas dan kemandirian ekonomi anak muda.

Quote