Ikuti Kami

Banjir Metro Selatan, Tommy: Penyaluran Bantuan Bukan Solusi Akhir Banjir Metro

Bantuan benih dan sarana produksi tersebut dinilai hanya sebatas langkah awal untuk memulai masa tanam.

Banjir Metro Selatan, Tommy: Penyaluran Bantuan Bukan Solusi Akhir Banjir Metro

Metro, Gesuri.id — Aliansi Petani Menggugat (APM) secara tegas menyatakan bahwa penyaluran bantuan sarana produksi pertanian kepada petani terdampak banjir di Metro Selatan bukanlah akhir dari penyelesaian masalah.

Bantuan benih dan sarana produksi tersebut dinilai hanya sebatas langkah awal untuk memulai masa tanam, namun sama sekali belum menyentuh akar penyebab bencana banjir yang terus memicu kerugian material dan mengancam keberlangsungan hidup kaum tani.

Kuasa Hukum APM sekaligus Wakil Ketua Bidang Hukum dan Advokasi DPC PDI Perjuangan Kota Metro, Tommy Gunawan, S.H., menegaskan komitmen organisasinya dalam mengawal hak-hak dasar petani. Sosok yang akrab disapa "Si Anak Beras" tersebut mengkritik pendekatan penyelesaian banjir yang dinilai masih bersifat seremonial dan belum menyentuh perbaikan sistemik. Pihaknya mendesak Pemerintah Kota Metro untuk segera merumuskan langkah manajerial yang terukur, mencakup pembenahan infrastruktur pembuangan air, pembebasan lahan, hingga mekanisme ganti kerugian bagi lahan yang sudah tidak produktif.

Baca: Ini Resep Ganjar Pranowo Yang Selalu Fit dan Bugar

“Kami menghargai setiap bantuan. Tetapi jangan pernah menganggap bantuan tersebut sebagai jawaban terakhir. Petani tidak membutuhkan seremoni sesaat, melainkan kepastian bahwa banjir tidak terus merampas sumber penghidupan mereka,” ujar Tommy.

Sebagai pengurus partai yang memegang teguh advokasi kerakyatan, Tommy menegaskan bahwa pengawalan terhadap persoalan banjir di Metro Selatan merupakan amanat ideologis untuk membela wong cilik. APM memastikan seluruh rangkaian perjuangan akan ditempuh secara terstruktur melalui jalur hukum, keterbukaan informasi publik, hingga advokasi tata kelola anggaran daerah demi memastikan kebijakan publik benar-benar berpihak pada sektor pertanian.

“Petani bukan objek seremoni, mereka adalah kaum Marhaen yang menjaga pangan negeri. Politik yang meninggalkan petani adalah politik yang kehilangan jiwa kerakyatannya, dan kami tidak akan tinggal diam,” tegasnya.

“Perjuangan ini bukan hanya untuk satu musim tanam, tetapi demi kepastian hukum, kepemilikan lahan, dan masa depan anak cucu petani,” tambah Si Anak Beras.

Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo

Senada dengan hal tersebut, perwakilan petani, Suyitno, menyampaikan bahwa masyarakat terdampak tidak hanya membutuhkan stimulan berupa benih, melainkan jaminan manajerial terkait pola penanganan banjir yang permanen. Ia berharap pemerintah tidak sekadar melakukan penyerahan bantuan secara simbolis di aula rapat, tetapi turun langsung melihat realita di lapangan untuk memetakan kerugian yang dialami petani secara objektif.

“Harapan utama kami adalah kepastian masa depan lahan dan kehidupan keluarga. Kami menuntut solusi permanen yang benar-benar hadir di sawah, bukan sekadar terdengar dalam pidato,” tegas Suyitno.

Sikap kritis yang ditunjukkan APM dan perwakilan petani Metro Selatan ini menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap manajemen penanggulangan bencana daerah. Bantuan darurat tidak boleh dijadikan alibi untuk menghentikan evaluasi kebijakan tata ruang dan perlindungan kawasan pertanian. Sinergi advokasi hukum yang kuat serta keterlibatan aktif elemen masyarakat sipil menjadi kunci utama dalam mendorong lahirnya regulasi dan solusi teknis yang berkeadilan bagi seluruh kaum tani di Kota Metro.

Quote