Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VI DPR RI, Sturman Panjaitan, meminta pemerintah segera mengevaluasi skema pembekalan bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menyusul bertambahnya peserta yang meninggal dunia dalam program pelatihan. Menurutnya, materi pembekalan tidak dapat disamakan dengan latihan dasar militer karena tujuan, karakter, dan kemampuan pesertanya berbeda.
"Latihan dasar militer itu memang untuk militer. Judulnya saja sudah latihan dasar militer, bukan untuk usaha. Kita harus melihat secara cermat karena kebutuhan militer berbeda dengan kebutuhan swasta atau manajer," ujarnya, dikutip Kamis (16/7/2026).
Sturman menjelaskan bahwa pendidikan militer memiliki standar dan mekanisme seleksi yang sangat berbeda dengan pelatihan calon manajer koperasi. Karena itu, pendekatan latihan dasar militer tidak bisa diterapkan secara langsung kepada peserta yang dipersiapkan untuk mengelola usaha koperasi.
"Untuk militer, sebelum mereka dilatih sudah punya kriteria, kemampuan fisik, dan intelegensi yang sudah diukur. Jadi tidak bisa serta-merta paket latihan dasar militer dipindahkan menjadi paket pelatihan untuk manajer," katanya.
Legislator dari Daerah Pemilihan Kepulauan Riau itu menilai apabila unsur-unsur pelatihan militer tetap ingin digunakan dalam pembekalan calon manajer, maka materi tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan koperasi dan tidak diadopsi secara utuh.
"Kalau mau dipakai, harus dipilah dan dipilih mana yang cocok. Latihan dasar itu untuk tujuan tertentu, sedangkan kebutuhan seorang manajer tentu berbeda," tegasnya.
Menurut Sturman, pembekalan bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih seharusnya lebih menitikberatkan pada peningkatan kemampuan mengelola usaha, kepemimpinan organisasi, serta penguatan kapasitas manajerial agar tujuan pembentukan koperasi dapat berjalan optimal.
Ia juga mendesak penyelenggara melakukan evaluasi menyeluruh terhadap insiden yang menyebabkan peserta meninggal dunia. Evaluasi tersebut dinilai penting agar pelaksanaan pembekalan ke depan lebih memperhatikan kondisi dan kemampuan masing-masing peserta sehingga kejadian serupa tidak terulang.
"Kita minta panitia maupun Koperasi Merah Putih melihat lagi alasan mengapa sampai peserta itu meninggal atau gagal mengikuti latihan. Seorang pelatih harus jeli melihat kemampuan setiap peserta, bukan menggunakan satu paket pelatihan yang sama untuk semua peserta," pungkasnya.

















































































