Banyuwangi, Gesuri.id - Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut ketertarikan sembilan calon pembeli (buyer) asal Filipina terhadap kopi specialty Banyuwangi. Kunjungan para buyer tersebut dinilai menjadi peluang strategis untuk memperluas pasar internasional sekaligus membuka kerja sama perdagangan yang dapat meningkatkan nilai ekonomi kopi lokal dan kesejahteraan petani.
“Ketertarikan buyer dari Filipina ini menjadi peluang bagi kopi Banyuwangi untuk masuk pasar internasional. Kami ingin potensi yang dimiliki petani dan pelaku usaha lokal bisa bertemu dengan pasar yang tepat, sehingga terbuka kerja sama yang berkelanjutan,” ujar Ipuk di Banyuwangi, dikutip Selasa (3/11/2026).
Kunjungan sembilan buyer tersebut difasilitasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Manila bersama pengurus pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES). Selain mencicipi dan mengenali karakteristik kopi Banyuwangi, para calon pembeli juga bertemu langsung dengan produsen serta mengunjungi perkebunan kopi untuk menjajaki potensi pasokan.
Ipuk mengatakan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus mendorong pengembangan komoditas unggulan daerah agar tidak hanya unggul dari sisi produksi, tetapi juga memiliki daya saing dalam hal kualitas, pengolahan, hingga pemasaran.
“Kami berharap pertemuan ini bisa berlanjut menjadi kerja sama bisnis yang memberikan manfaat bagi petani dan pelaku usaha kopi di Banyuwangi,” jelas politisi PDI Perjuangan itu dikutip Selasa (3/11/2026).
Pelaksana Fungsi Ekonomi KBRI Manila, Lindi Mahesi, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari program promosi kopi specialty Indonesia di Filipina. Tahun ini, Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang untuk pertama kalinya masuk dalam agenda kunjungan promosi tersebut.
“Kami mendengar Banyuwangi memiliki kopi specialty berkualitas yang bisa dipromosikan. Karena itu, kami membawa buyer dari Filipina agar bisa bertemu langsung dengan produsen kopi di sini,” ujar Lindi.
Selama berada di Banyuwangi, para buyer mengikuti sejumlah agenda untuk mengenal lebih dekat potensi kopi lokal. Kegiatan tersebut meliputi business matching, coffee testing, dan coffee cupping bersama produsen lokal di Omah Kopi Kalipuro, serta kunjungan ke perkebunan kopi di kawasan PTPN.
“Jadi, kami mendorong agar kopi Banyuwangi memiliki peluang menembus pasar internasional,” kata Lindi.
Menurut Lindi, Filipina merupakan pasar potensial bagi kopi Indonesia. Tingkat konsumsi kopi di negara tersebut tergolong tinggi, sementara produksi dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar. Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia, termasuk Banyuwangi, untuk memperluas perdagangan kopi ke negara tetangga tersebut.
“Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi langkah awal untuk meningkatkan ekspor kopi Indonesia ke Filipina,” jelasnya.
Ketertarikan terhadap kualitas kopi Banyuwangi juga diungkapkan Joefel Reggie Egalin Bautista dari UCC Ueshima Coffee Company Inc., salah satu buyer yang mengikuti rangkaian kunjungan tersebut.
Joefel mengatakan, meningkatnya permintaan kopi di Filipina mendorong perusahaannya untuk menjajaki sumber pasokan dari negara-negara tetangga. Namun, dalam menentukan pilihan, pihaknya tidak hanya mempertimbangkan ketersediaan biji kopi, tetapi juga kualitas, karakter rasa, asal-usul, serta proses produksinya.
Setelah mencicipi kopi Banyuwangi dalam kegiatan tersebut, Joefel memberikan penilaian positif terhadap karakter rasa kopi lokal.
“Kopi Banyuwangi ini memiliki tingkat keasaman yang sangat segar, sangat halus, dan mudah dinikmati. Saya bisa katakan kopi ini diproduksi atau ditangani dengan baik serta diproses dengan baik,” kata Joefel.
Menurutnya, kualitas kopi tidak hanya ditentukan oleh jenis biji yang dihasilkan, tetapi juga dipengaruhi pengelolaan perkebunan dan penanganan hasil panen. Faktor-faktor tersebut menjadi pertimbangan penting bagi perusahaannya dalam mencari sumber pasokan kopi berkualitas.
Karena itu, Joefel menyatakan ketertarikannya untuk menggali lebih jauh potensi perkebunan dan produksi kopi di Banyuwangi.
“Kami sudah tidak sabar untuk mengeksplorasi lebih banyak potensi kopi di Banyuwangi,” ungkapnya.
Ketertarikan buyer Filipina ini diharapkan tidak berhenti pada kunjungan dan penjajakan semata, tetapi berkembang menjadi transaksi perdagangan konkret. Dengan demikian, kopi specialty Banyuwangi memiliki kesempatan lebih luas untuk menembus pasar ekspor, sekaligus membuka manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani dan pelaku usaha kopi lokal.

















































































