Jakarta, Gesuri.id - Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IX DPR RI Charles Honoris mendorong agar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat langkah pencegahan dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, menyusul meningkatnya tren suspek campak dalam tiga tahun terakhir.
Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris saat melakukan pertemuan dengan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen dan jajarannya, dalam rangka Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IX DPR RI Bidang Kesehatan, terkait Pengawasan Kesiapsiagaan Daerah dalam Pencegahan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak, di Provinsi Jawa Tengah, di Gedung Merah Putih, Kompleks Kantor Gubernur Jateng Jl Pahlawan Semarang, Senin (30/3).
Politisi PDI Perjuangan ini menambahkan, khusus terkait imunisasi, berdasarkan tinjauan klinis dan epidemiologis, pemberian imunisasi Campak-Rubella (MR) ditetapkan sebagai instrumen paling efektif dalam memutus rantai penularan penyakit.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
"Pengendalian campak secara nasional sangat bergantung pada pemenuhan cakupan imunisasi yang lengkap, merata, dan inklusif di seluruh wilayah tanpa pengecualian," jelas Charles.
Legislator asal Daerah Pemilihan DKI Jakarta III ini juga menjelaskan bahwa salah satu fokus kunjungan kerja spesifik kali ini untuk mendapatkan gambaran mengenai KLB Campak di Provinsi Jawa Tengah sekaligus penanganannya.
"Kami juga ingin mendapatkan gambaran apakah terdapat kendala yang dihadapi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam melaksanakan upaya penanganan KLB Campak," tandasnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Gus Yasin dalam paparannya menjelaskan KLB campak di Jawa Tengah baru terjadi di tiga kabupaten, yakni Cilacap, Klaten, dan Pati. Selain itu, terdapat dua daerah dengan status suspek, yaitu Brebes dan Kudus. Meski sebagian besar wilayah masih dalam kondisi terkendali, potensi penyebaran tetap menjadi perhatian.
Baca: Ganjar Pranowo Tak Ambil Pusing Elektabilitas Ditempel Ketat
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, tren suspek campak di Jawa Tengah sepanjang 2023 hingga triwulan I 2026 cenderung naik. Puncak suspek campak terjadi pada Januari 2026 dengan jumlah kasus 792 suspek.
Menurut Taj Yasin, peningkatan kasus tersebut merupakan dampak dari terganggunya layanan imunisasi saat pandemi Covid-19. Oleh karena itu, Pemprov Jateng kini mendorong percepatan pemulihan cakupan imunisasi di seluruh wilayah.
“Ini menjadi momentum untuk mengejar ketertinggalan. Kami terus menggerakkan kembali imunisasi dan memperkuat kampanye kepada masyarakat,” pungkasnya.

















































































