Jakarta, Gesuri.id - Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa hadiri tradisi Sadranan Agung Wotgaleh, Minggu (8/2).
Perhelatan tahunan yang digelar guna menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan ini menjadi momentum sakral bagi masyarakat setempat untuk memanjatkan doa bagi leluhur sekaligus mempererat tali persaudaraan melalui balutan budaya Mataram Islam yang masih terjaga kelestariannya.
Lurah Sendangtirto, Amir Junawan, menjelaskan bahwa tradisi ini rutin dilaksanakan setiap bulan Ruwah dalam kalender Jawa sebagai bentuk rasa syukur kolektif. Inti dari Sadranan Agung ini adalah penghormatan serta doa bagi para leluhur, khususnya Pangeran Purbaya yang merupakan putra dari Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Keberadaan makam Pangeran Purbaya di kompleks Masjid Wotgaleh menjadikan wilayah Sendangtirto memiliki nilai historis yang kuat bagi perkembangan Islam di tanah Jawa.
Rangkaian acara diawali dengan kirab budaya yang sangat meriah. Arak-arakan peserta kirab menempuh perjalanan dari Kantor Kapanewon Berbah menuju kompleks Masjid Wotgaleh dengan membawa berbagai hasil bumi. Sesampainya di lokasi, warga melaksanakan doa bersama dan ziarah di makam Pangeran Purbaya dengan khidmat. Puncak acara ditutup dengan tradisi rayahan atau berebut gunungan hasil bumi yang telah didoakan. Warga meyakini bahwa gunungan tersebut merupakan simbol berkah dan ungkapan syukur atas limpahan rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa.
Danang Maharsa mengapresiasi atas konsistensi masyarakat Sendangtirto dalam merawat warisan budaya. Menurutnya, Sadranan Agung bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan identitas kultural yang mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu semangat kebersamaan.
Pemerintah Kabupaten Sleman pun berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan kebudayaan yang memiliki nilai edukasi dan sejarah bagi generasi muda.
Baca: Ganjar Pranowo Tekankan Pentingnya Kritik
“Tentunya ini merupakan upaya kita bersama untuk terus melestarikan tradisi dan budaya yang kita miliki. Saya sangat bangga melihat antusiasme warga yang luar biasa. Semoga kegiatan ini tidak sebatas acara seremonial semata, tetapi benar-benar menjadi ajang silaturahmi agar masyarakat terus guyub rukun. Kerukunan adalah modal utama kita dalam membangun Sleman yang lebih baik,” ujar Danang Maharsa di sela-sela prosesi kirab.
Melalui kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu Mataram Islam tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Tradisi Sadranan Agung Wotgaleh membuktikan bahwa spiritualitas dan kebudayaan dapat berjalan beriringan dalam menciptakan harmoni sosial.
Acara berakhir dengan suasana penuh kebahagiaan saat warga membawa pulang hasil gunungan sebagai persiapan batin menyambut bulan suci Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh kegembiraan.

















































































