Semarang, Gesuri.id — Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel J.D. Wattimena, mendorong para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kota Semarang untuk berani berinovasi dengan memadukan unsur produk tradisional dan kreativitas modern.
Dorongan tersebut disampaikannya usai membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Penumbuhan dan Pengembangan Wirausaha Baru Industri Kecil di Kota Semarang, yang berlangsung di Hotel MG Setos, Sabtu (26/9).
Program yang diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian ini diikuti oleh lebih dari 300 pelaku UMKM dan IKM dari berbagai klaster, seperti sektor pangan, batik dan sablon, logam, hingga jasa servis.
Baca: Berita kumpulan ganjar pranowo hari ini
Menurut Samuel, skala usaha IKM yang relatif kecil justru memberikan keleluasaan lebih besar bagi para pelaku usaha untuk mengeksplorasi ide-ide baru tanpa menanggung risiko kegagalan yang terlalu besar.
"Selagi mereka ini adalah IKM, scope-nya kecil. Karena scope-nya kecil, ayo dong explore. Dalam arti risikonya tidak besar, risiko kegagalan," ujar Samuel.
Ia mencontohkan, pelaku usaha pangan dapat melakukan eksperimen (trial and error) dengan menciptakan produk modern berakar budaya lokal, seperti membuat roti bercita rasa jajanan tradisional cendol atau olahan ketan. Secara teknis, inovasi semacam ini sangat mungkin diwujudkan karena bahan baku dan kapasitas produksi sudah dikuasai oleh para pelaku IKM.
Selain sektor pangan, Samuel juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara perajin batik dan pelaku usaha sablon. Ia menyarankan agar motif batik klasik dikemas lebih dekat dengan selera generasi muda melalui teknik pemotongan atau pengembangan desain tertentu, sementara para perajin batik juga didorong mengeksplorasi motif-motif ala sablon dengan tetap mempertahankan teknik asli membatik.
Langkah ini dinilai krusial agar generasi muda tidak menganggap batik sebagai produk yang kuno, sekaligus menjaga keberlanjutan keahlian para perajin lokal.
Baca: Ganjar Pranowo Sosok Pemimpin yang Disukai Semua Kalangan
Gagasan kreatif tersebut disambut baik oleh mentor pelatihan batik sekaligus pemilik merek Chelomita asal Semarang, Sri Suharti. Ia menyatakan bahwa eksplorasi motif sablon menjadi desain batik membuka peluang besar untuk memperkaya ragam produk.
Lebih lanjut, Sri—yang akrab disapa Bu Cici—menyampaikan bahwa penerapan ide tersebut dapat diintegrasikan langsung ke dalam materi pelatihan peserta. Selain berfokus pada inovasi desain, ia juga melihat momentum ini sebagai kesempatan untuk memperluas ruang inklusivitas, termasuk melibatkan penyandang disabilitas rungu dalam proses produksi batik ke depan.

















































































