Gili, Gesuri.id — Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menyoroti empat fokus utama pengembangan pariwisata di kawasan Tiga Gili (Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air). Keempat fokus tersebut mencakup pendidikan, kebersihan, keamanan, dan penyusunan peta jalan (roadmap) terpadu.
Evita mendorong pengintegrasian materi pariwisata ke dalam kurikulum pendidikan formal, mulai dari tingkat SD hingga SMA. Menurutnya, edukasi sejak dini penting untuk menanamkan rasa memiliki, kesadaran kebersihan, keramahtamahan (hospitality), serta kepedulian terhadap lingkungan dan aset lokal.
Baca: Ini Resep Ganjar Pranowo Yang Selalu Fit dan Bugar
"Dengan pendidikan sejak dini, kesadaran ekonomi masyarakat dan partisipasi aktif dalam sektor pariwisata diharapkan meningkat," ujar Evita.
Selain aspek edukasi, Evita menyoroti pentingnya pemberdayaan masyarakat dalam menjaga kebersihan destinasi. Ia mengusulkan penerapan skema pembiayaan lokal atau iuran untuk pemeliharaan kawasan, disertai pembagian zona tanggung jawab di setiap titik wisata Tiga Gili.
Dari sisi keselamatan, Evita mendesak pembenahan sistem keamanan transportasi air, khususnya ketersediaan jaket pelampung di kapal cepat (fast boat). Ia menegaskan bahwa standar keselamatan merupakan indikator utama kemajuan suatu destinasi wisata.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, mengakui masih terdapat sejumlah persoalan mendasar di kawasan Tiga Gili, seperti kepastian status kawasan, tata kelola lahan, krisis air bersih, dan penanganan sampah.
Iqbal menyatakan bahwa Pemprov NTB bersama pemerintah pusat tengah mengupayakan penyelesaian status hukum dan konservasi kawasan secara menyeluruh.
"Kami menargetkan persoalan ini tuntas pada akhir tahun. Penyelesaiannya harus menyeluruh, baik dari aspek hukum maupun pemulihan lingkungan," kata Iqbal.
Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres
Sebagai langkah konkret, Pemprov NTB menyiapkan penyediaan air bersih berbasis teknologi pesisir dan pengolahan sampah yang disesuaikan dengan karakteristik kepulauan.
"Fokus kami bukan hanya mengejar kuantitas wisatawan, melainkan kualitas kunjungan—seperti durasi tinggal dan tingkat pengeluaran—sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal dan daya dukung lingkungan," pungkasnya.

















































































