Jakarta, Gesuri.id - Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menegaskan pentingnya pembentukan karakter untuk melahirkan manusia Indonesia yang paripurna.
Ia menilai, kecerdasan akademis semata tidak akan cukup tanpa diimbangi akhlak serta keteguhan dalam memegang prinsip.
Pernyataan tersebut disampaikan Megawati dalam pidatonya pada acara Ekspos Naskah Sumber Arsip Dasar Negara II: Masa Reses dan Sidang Kedua Badan Penyelidikan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) 10–17 Juli 1945 yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Senin (10/8).
Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres
Dalam kesempatan itu, Megawati merinci empat pilar utama yang harus dimiliki seseorang agar tangguh menghadapi berbagai tekanan hidup: keyakinan, keteguhan, keberanian, dan kesabaran.
Empat Prinsip Utama Pembentuk Karakter
- Keyakinan & Keteguhan:
Megawati menyoroti fenomena individu yang mudah berpindah haluan saat diterpa situasi sulit. Menurutnya, tanpa keyakinan dan keteguhan, seseorang rentan menjadi pemelihara sikap oportunis.
"Seseorang kalau tidak punya keyakinan, itulah, jadi penjilat. Jadi nomor satu keyakinan, kedua keteguhan. Jangan loncat pagar melulu," ujar Megawati, mengutip tayangan kanal YouTube BPIP, Rabu (12/8/2026).
Ia menambahkan bahwa sikap 'loncat pagar' kerap diambil oleh orang-orang yang enggan menghadapi konsekuensi dari pilihan hidupnya.
- Keberanian:
Selain meyakini suatu prinsip, seseorang dituntut memiliki keberanian untuk mempertahankan keyakinan tersebut dalam situasi apa pun.
- Kesabaran:
Pilar terakhir ini menjadi ujian pamungkas ketika keteguhan seseorang diuji oleh tekanan dan perselisihan yang berlangsung dalam jangka panjang.
Mengaitkan pilar kesabaran dengan pengalaman pribadinya, Megawati menceritakan perjalanan panjang keluarga Presiden ke-1 RI, Soekarno, yang lama menyatu dengan stigma politik Orde Baru melalui ketetapan majelis.
Ia mempertanyakan dasar hukum yang melanggengkan stigma tersebut selama lebih dari lima dekade terhadap Bung Karno, tanpa pernah melalui proses peradilan yang adil.
Baca: Ini Resep Ganjar Pranowo Yang Selalu Fit dan Bugar
"Saya hitung cap itu 56 tahun melekat pada dirinya. Padahal silakan cari ahli hukum di mana saja, apakah Bung Karno pernah diproses hukum? Tidak pernah," tegasnya.
Megawati menekankan bahwa setiap persoalan hukum dan sejarah semestinya dilihata secara utuh (audi alteram partem) dengan memberikan hak serta kesempatan yang sama bagi semua pihak untuk menyampaikan klarifikasi.
Ia mengaku masih memilih bersabar menghadapi berbagai tudingan yang mengarah kepada keluarganya, seraya mengingatkan bahwa kesabaran setiap orang tetap memiliki batasnya

















































































