Surabaya, Gesuri.id – Anggota Komisi X DPR RI, Puti Guntur Soekarno, menekankan dua isu strategis yang harus menjadi fokus utama dalam pembangunan pendidikan di Jawa Timur.
Kedua isu tersebut adalah penguatan pendidikan karakter serta peningkatan konektivitas (link and match) antara lulusan pendidikan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).
Puti menilai bahwa berbagai dinamika dan persoalan sosial di lingkungan sekolah saat ini berakar dari lemahnya pembentukan karakter bangsa (nation character building). Ia menegaskan bahwa aspek ini harus menjadi arus utama dalam setiap kebijakan pendidikan yang disusun pemerintah maupun DPR RI.
Baca: Ganjar Tekankan Kepemimpinan Strategis
"Beberapa masalah yang kita temui bermuara pada pendidikan karakter. Ini harus benar-benar kita sikapi bersama dalam kebijakan ke depan di Komisi X, baik melalui kebijakan pemerintah maupun undang-undang," tegas Puti saat ditemui di Kantor BBPMP Jawa Timur, Surabaya, Senin (23/2).
Legislator dari Dapil Jawa Timur I ini juga mendorong aktivasi kembali ruang pembentukan karakter, seperti:
1. Kegiatan Kepramukaan: Sebagai wadah kedisiplinan dan organisasi.
2. Muatan Lokal: Penguatan nilai budaya daerah.
3. Budi Pekerti: Mengembalikan etika sebagai fondasi pendidikan.
Puti juga memberikan catatan mengenai peran guru. Menurutnya, ketegasan guru dalam mendisiplinkan siswa jangan serta-merta dianggap sebagai pelanggaran hukum, melainkan bagian integral dari proses pendidikan.
"Keluarga juga bertanggung jawab mendidik anak agar memiliki akhlak, etika, dan menjadi generasi kompetitif yang tetap menjunjung sopan santun," tambah Politisi PDI-Perjuangan tersebut.
Selain persoalan karakter, Puti menyoroti penurunan angka partisipasi pendidikan dari jenjang menengah hingga perguruan tinggi di Jawa Timur. Meskipun angka partisipasi dasar tergolong baik, penurunan di level SMA/SMK dan pendidikan tinggi perlu mendapat perhatian serius.
Baca: Ganjar Pranowo Ungkap Masyarakat Takut dengan Pajak
Sebagai provinsi dengan kawasan industri berskala nasional, Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menyerap tenaga kerja muda. Namun, Puti melihat masih ada celah (gap) antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar.
"Saya melihat belum ada mix and match yang optimal antara lulusan SMA, SMK, maupun perguruan tinggi dengan dunia usaha di Jawa Timur," ungkapnya.
Sebagai penutup, ia mendorong penguatan komunikasi dan kolaborasi lintas sektor. Tujuannya agar kurikulum pendidikan lebih adaptif terhadap kebutuhan industri, sehingga lulusan asal Jawa Timur lebih siap terserap di pasar kerja.

















































































