Jakarta, Gesuri.id - Anggota DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo menyoroti insiden adu mulut antar penumpang Transjakarta yang viral di media sosial akibat perebutan kursi nonprioritas antara penumpang lanjut usia dan penumpang muda.
Dia menilai peristiwa tersebut mencerminkan pentingnya etika dan empati di transportasi publik.
Baca: Ganjar Tekankan Kepemimpinan Strategis
Menurut Rio, kendati kursi yang dipermasalahkan bukan termasuk kategori prioritas, penghormatan terhadap kelompok rentan tetap perlu dikedepankan. Dia menekankan, aturan formal tidak seharusnya mengesampingkan nilai kemanusiaan.
“Tidak semua hal bisa dilihat hanya dari sisi regulasi. Dalam kondisi tertentu, lansia atau penumpang yang membutuhkan semestinya didahulukan sebagai bentuk kepedulian sosial,” kata Rio, Sabtu, 3 Januari 2026.
Kendati demikian, Rio juga menyadari penumpang lain bisa saja memiliki keterbatasan fisik yang tidak terlihat. Dia menyebut komunikasi terbuka menjadi kunci agar konflik serupa tidak terulang.
“Kalau memang tidak memungkinkan untuk berdiri karena kondisi kesehatan, itu bisa dijelaskan dengan cara yang baik. Dengan komunikasi yang tepat, situasi seperti ini seharusnya bisa dihindari,” tuturnya.
Rio menilai kejadian tersebut patut menjadi bahan evaluasi bagi pengelola transportasi publik di Jakarta. Dia mengingatkan, Transjakarta telah menegaskan kursi nonprioritas dapat digunakan oleh seluruh penumpang tanpa pengecualian.
Lebih lanjut, Rio berencana mendorong Dinas Perhubungan DKI Jakarta untuk menambah imbauan di dalam armada, khususnya di area kursi nonprioritas, guna menumbuhkan kesadaran bersama.
“Bukan untuk mengubah aturan, tapi memberi pengingat moral bahwa ada kelompok tertentu yang perlu diperhatikan. Imbauan semacam ini penting,” ujar Rio.
Baca: Ganjar Pranowo Belum Pastikan Maju Pada Pilpres 2029
Dia pun berharap langkah tersebut dapat mendorong terciptanya budaya saling menghormati di transportasi publik. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat sering kali berawal dari edukasi yang konsisten.
“Budaya tertib dan empati tidak terbentuk instan. Tapi kalau terus diingatkan, lama-lama akan menjadi kebiasaan,” tandasnya.

















































































