Ikuti Kami

Edi Purwanto Tegaskan Penyelamatan Warga Terdampak Bencana di Sumatera Tak Boleh Ditunda Satu Detik Pun

Dalam kondisi darurat, waktu bukan sekadar angka di jam dinding. Waktu adalah penentu hidup dan mati.

Edi Purwanto Tegaskan Penyelamatan Warga Terdampak Bencana di Sumatera Tak Boleh Ditunda Satu Detik Pun
Anggota Komisi V DPR RI Daerah Pemilihan Jambi, Edi Purwanto.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi V DPR RI Daerah Pemilihan Jambi, Edi Purwanto, menegaskan bahwa penanganan bencana di wilayah Sumatera harus dilakukan secara cepat dan tidak boleh mengalami penundaan sedikit pun. Ia menilai, dalam situasi darurat, kecepatan respons negara menjadi faktor penentu keselamatan warga terdampak.

“Saya, Edi Purwanto, menegaskan dengan sungguh-sungguh bahwa langkah penyelamatan warga terdampak bencana di Sumatera tidak boleh ditunda satu detik pun. Dalam kondisi darurat, waktu bukan sekadar angka di jam dinding. Waktu adalah penentu hidup dan mati,” kata Edi, dikutip pada Minggu (28/12/2025).

Edi menekankan bahwa fokus utama dalam situasi bencana bukanlah persoalan administratif maupun program jangka panjang. Menurutnya, kebutuhan paling mendesak yang harus segera dipastikan negara hadir adalah pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di lokasi terdampak.

“Yang paling mendesak saat ini bukanlah urusan administratif atau program-program jangka panjang yang bisa dibahas kemudian. Yang dibutuhkan masyarakat di lapangan adalah hal paling dasar untuk bertahan hidup: pangan, sandang, air bersih, dan listrik. Empat kebutuhan ini wajib segera dipastikan aman dan tersedia di seluruh wilayah terdampak,” ucapnya.

Ia menilai kebutuhan dasar tersebut bukan sekadar catatan teknis dalam laporan penanganan bencana, melainkan penopang utama kehidupan warga. Tanpa pemenuhan kebutuhan tersebut, masyarakat akan kehilangan daya tahan untuk bertahan di tengah situasi krisis.

“Bagi saya, kebutuhan dasar bukan sekadar daftar teknis dalam laporan penanganan bencana. Ia adalah penopang nyawa manusia. Tanpa makanan, tanpa penerangan, tanpa air bersih, sebuah keluarga tidak hanya kehilangan kenyamanan—mereka kehilangan harapan untuk bertahan. Karena itu, negara harus hadir memastikan setiap rumah tangga memiliki kebutuhan minimum tersebut, sebelum berbicara tentang program lain yang kurang relevan dalam situasi darurat,” ujarnya.

Selain kebutuhan dasar, Edi juga menyoroti pentingnya percepatan perbaikan infrastruktur vital yang rusak akibat bencana. Ia mengingatkan bahwa keterisolasian wilayah terdampak hanya akan memperbesar risiko jatuhnya korban.

“Selain pemenuhan kebutuhan dasar, saya juga mendesak pemerintah untuk bergerak cepat memperbaiki infrastruktur kritis. Jalan yang terputus, jembatan penghubung yang rusak, jaringan listrik yang padam, serta akses air bersih yang terganggu harus menjadi prioritas. Banyak wilayah saat ini terisolasi, dan keterisolasian di tengah bencana hanya akan memperbesar risiko korban,” jelasnya.

Edi menegaskan bahwa keselamatan warga harus ditempatkan sebagai kepentingan strategis negara. Karena itu, ia meminta seluruh kementerian dan lembaga menanggalkan ego sektoral dan bekerja secara terpadu.

“Saya menegaskan satu prinsip yang harus menjadi pegangan bersama: nyawa adalah kepentingan strategis. Karena itu, tidak boleh ada ego sektoral. Seluruh kementerian dan lembaga harus bergerak serempak, saling melengkapi, dan fokus pada keselamatan rakyat. Apalagi kebutuhan tambahan seperti sekitar 3.000 tenaga medis, termasuk dokter, telah diidentifikasi untuk memperkuat layanan kesehatan bagi warga terdampak,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Edi menyatakan DPR RI mendorong kolaborasi penuh antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh elemen bangsa dalam menghadapi bencana. Menurutnya, penanganan bencana merupakan ujian nyata kehadiran negara di tengah rakyat.

“DPR RI mendorong kolaborasi total antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh elemen bangsa. Kita membutuhkan kesadaran politik yang utuh—bahwa penanganan bencana bukan ajang pencitraan, melainkan ujian kehadiran negara di saat rakyat paling membutuhkan,” tuturnya.

Ia pun menutup pernyataannya dengan penegasan bahwa tidak ada alasan untuk bergerak lamban dalam situasi darurat, karena yang dipertaruhkan adalah nyawa manusia.

“Tidak ada waktu untuk bergerak lamban. Tidak ada ruang untuk saling menunggu. Karena dalam situasi seperti ini, yang dipertaruhkan bukan sekadar data dan laporan—melainkan nyawa rakyat Indonesia,” pungkasnya.

Quote