Jakarta, Gesuri.id - Konsultan dan Perencana Keuangan Elvi Diana, CFP mengharapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) segera mengantisipasi potensi dampak negatif eskalasi perang di Timur Tengah (Timteng) terhadap pasar modal Indonesia. Menurutnya, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini harus menjadi alarm dini bagi otoritas untuk memperkuat stabilitas sektor keuangan.
Pada penutupan perdagangan Selasa (3/3/2026), IHSG tercatat turun 0,96% ke level 7.939,77. Koreksi tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik bersenjata yang melibatkan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi dan harga komoditas global.
“Elastisitas pasar modal Indonesia terhadap dinamika global cukup tinggi. Jika eskalasi konflik terus berlanjut, volatilitas berpotensi meningkat dan memicu aksi jual lanjutan. Ini harus menjadi alarm bagi OJK untuk memperkuat langkah mitigasi risiko,” ujar Elvi Diana dalam keterangannya, Rabu (3/3/2026).
Menurut Anggota Bidang Ekonomi Badan Analisa, Riset dan Kebijakan Pusat DPP PDI Perjuangan itu, dampak konflik geopolitik biasanya menjalar melalui beberapa jalur, antara lain lonjakan harga minyak dunia, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta keluarnya aliran dana asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang.
Kondisi ini berpotensi memperburuk sentimen investor dan menekan indeks saham domestik.
Ia menekankan pentingnya koordinasi erat antara OJK, Bank Indonesia, dan otoritas fiskal guna menjaga kepercayaan pasar.
“Stabilitas psikologis investor sama pentingnya dengan fundamental ekonomi. OJK perlu memastikan mekanisme pengawasan berjalan optimal serta menyiapkan kebijakan responsif untuk meredam gejolak,” tambahnya.
Elvi juga mengimbau investor ritel agar tidak panik dalam merespons fluktuasi jangka pendek. Menurutnya, strategi diversifikasi portofolio dan disiplin investasi jangka panjang tetap menjadi kunci menghadapi periode volatilitas tinggi.
“Pasar modal memang sensitif terhadap sentimen global, tetapi keputusan investasi harus tetap berbasis analisis fundamental dan manajemen risiko yang baik,” tegasnya.
Ia berharap langkah antisipatif yang cepat dan terukur dari OJK dapat menjaga stabilitas pasar modal Indonesia di tengah ketidakpastian global yang semakin kompleks.

















































































