Magelang, Gesuri.id – Di tengah derasnya arus informasi yang kerap mengejar viralitas dan sensasi, media massa dituntut untuk kembali ke marwahnya sebagai jembatan kemanusiaan.
Hal tersebut mengemuka dalam Workshop Jurnalistik Filantropi yang digelar di Kota Magelang, Sabtu (25/4).
Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Wibowo Prasetyo, menegaskan bahwa jurnalisme tidak cukup hanya menyampaikan fakta mentah. Menurutnya, media memiliki peran strategis untuk membangun kepedulian sosial dan memperkuat solidaritas publik melalui perspektif yang memanusiakan manusia.
Baca: Ganjar Membuktikan Dirinya Sebagai Sosok Yang Inklusif
Wibowo, yang juga merupakan mantan jurnalis, menjelaskan bahwa jurnalistik filantropi bukanlah upaya meninggalkan kaidah profesi. Sebaliknya, pendekatan ini tetap berpijak teguh pada akurasi, verifikasi, dan etika, namun dilakukan dengan kepekaan sosial yang lebih tinggi.
“Jurnalistik filantropi adalah cara media menghadirkan fakta sosial dengan hati nurani tanpa kehilangan disiplin jurnalistik. Berita tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga diharapkan mampu membangkitkan solidaritas nyata,” ujar Wibowo.
Ia mengingatkan para insan pers agar dalam menyusun berita isu sosial tidak terjebak pada eksploitasi penderitaan. Menjaga martabat narasumber adalah kewajiban yang tidak boleh ditawar demi sekadar memburu clickbait.
Dalam forum tersebut, NU Online disebut sebagai salah satu contoh konkret media yang berhasil menggerakkan semangat jurnalistik filantropi. Tidak sekadar memproduksi berita, media ini dinilai mampu mengintegrasikan informasi dengan gerakan sosial yang berdampak luas.
Baca: Terobosan dan Torehan Segudang Prestasi Ganjar Pranowo
Beberapa poin keunggulan yang disoroti meliputi:
- Pemberitaan Tematik: Fokus pada isu kebencanaan, pendidikan, dan pelayanan umat.
- Integrasi Digital: Memiliki kanal yang terhubung langsung dengan gerakan filantropi warga Nahdlatul Ulama.
- Kekuatan Komunitas: Membuktikan bahwa media berbasis nilai keagamaan memiliki kekuatan besar dalam menumbuhkan solidaritas sosial.
“Jurnalis dituntut tidak sekadar memburu sensasi, tetapi harus mampu menghadirkan informasi yang memberi harapan dan mendorong tindakan nyata dari publik,” pungkas politisi dari Dapil Jawa Tengah VI tersebut.

















































































