Bogor, Gesuri.id — Anggota DPRD Kota Bogor, Banu Lesmana Bagaskara, memberikan motivasi dan wawasan kebangsaan kepada 260 peserta Jamboree On The Air (JOTA) dan Jamboree On The Internet (JOTI) 2026.
Dalam giat yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, Minggu (18/10/2026), legislator muda tersebut menekankan pentingnya peran aktif generasi muda dalam pemanfaatan teknologi secara bijak, kepedulian lingkungan, serta pemahaman politik praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Di hadapan ratusan anggota Pramuka, Banu menyoroti tantangan nyata anak muda di era digital, khususnya terkait durasi penggunaan media sosial dan ketergantungan pada permainan daring (game online).
Menurutnya, kemudahan akses teknologi harus dibarengi dengan kontrol diri dan manajemen waktu yang berimbang.
Baca: Ganjar Pranowo Sosok Pemimpin yang Disukai Semua Kalangan
“Media sosial dan game online saat ini sudah menjadi bagian dari kultur. Terkadang karena terlalu instan dan mudah diakses, kita tidak sadar sudah menghabiskan waktu berjam-jam,” ujar Banu.
Selain isu digitalisasi, Banu menggemakan aksi nyata pelestarian lingkungan. Sebagai simbolisasi edukasi pengurangan sampah plastik sekali pakai, ia membagikan wadah minuman (tumbler) kepada peserta yang aktif berdiskusi. Banu menegaskan bahwa kebiasaan sederhana membawa tumbler pribadi berkontribusi besar bagi masa depan bumi.
“Usia bumi kita sudah tidak lagi muda, dan kerusakan alam seperti pembabatan hutan masih terus terjadi. Setiap limbah plastik yang kita gunakan butuh waktu hingga jutaan tahun untuk terurai. Menggunakan tumbler adalah langkah kecil kita agar bumi bisa kembali hijau dan laut kembali biru,” tegas legislator kelahiran 1996 tersebut.
Memasuki sesi diskusi kepemudaan dan politik, Banu membagikan rekam jejak perjalanan kariernya. Ia menceritakan bahwa kegagalannya pada Pemilu 2019 tidak memadamkan semangatnya untuk mengabdi kepada masyarakat. Bagi Banu, keterlibatan anak muda dalam politik bukan sekadar mengejar jabatan struktural, melainkan kepedulian atas problematika di tengah publik.
“Syarat menjadi calon legislatif secara aturan minimal berusia 21 tahun, WNI, dan berijazah minimal SMA. Namun, hal yang paling menentukan adalah tingkat kepercayaan masyarakat di daerah pemilihan,” ungkapnya.
Ia pun mencontohkan aksinya sebelum menjadi anggota dewan, saat memelopori gerakan warga Kelurahan Mekarwangi untuk menyampaikan aspirasi resmi ke PLN terkait pembaruan infrastruktur tiang listrik dan keandalan pasokan energi.
Pengalaman tersebut ia bagikan untuk memantik keberanian anggota Pramuka agar peka terhadap persoalan lingkungan sekitar, seperti perbaikan jalan hingga penerangan jalan umum (PJU).
“Meskipun hari ini belum memiliki jabatan di pemerintahan, adik-adik sebagai anggota Pramuka bisa menjadi pemuda pelopor di wilayah masing-masing. Jangan ragu bergerak secara resmi dan sah untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat sekitar,” pesan Banu.
Baca:Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
Diskusi berjalan interaktif ketika peserta diajak membedah korelasi politik dengan kehidupan sehari-hari. Alya, salah satu peserta dari SMA Negeri 7 Kota Bogor, mencermati bahwa kebijakan publik dan keputusan politik secara langsung memengaruhi stabilitas harga bahan pokok di pasar.
Menanggapi pandangan tersebut, Banu mengapresiasi kepekaan kritis para peserta. Ia berharap ajang JOTA-JOTI 2026 tidak hanya mengasah keterampilan komunikasi berbasis teknologi, tetapi juga membentuk karakter pemuda yang kritis, solutif, dan peduli sosial.
Penutupan rangkaian acara JOTA-JOTI 2026 ini turut dihadiri oleh Wakil Ketua Bidang Humas dan Teknologi Informasi sekaligus Ketua PWI Kota Bogor, Aldho, serta ditutup secara resmi oleh Sekretaris Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Kota Bogor, Ronny Kunaefi.

















































































