Semarang, Gesuri.id – Fenomena El Nino yang melanda wilayah Indonesia bukan sekadar ancaman cuaca panas semata, melainkan persoalan multidimensi yang menyentuh sektor ketersediaan air bersih, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, hingga stabilitas ekonomi keluarga.
Mengingat dampaknya yang luas, masyarakat diimbau untuk tidak panik namun tetap siaga dalam melakukan langkah-langkah mitigasi sejak dini.
Hal tersebut diungkapkan oleh Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Samuel J.D. Watimena, saat menjadi narasumber dalam dialog siniar (podcast) bersama RRI Semarang, Kamis (6/8/2026).
Dalam perbincangan santai namun sarat makna tersebut, legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah I ini menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif berbasis data dan kearifan lokal.
Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo
"El Nino ini kenaikan suhu panas dari lautan. Kalau berdasarkan data dan prediksi ilmiah dari BMKG, puncaknya diprediksi mulai Agustus sampai Oktober. Jangan panik, tapi jangan terlambat juga untuk bersiap-siap. Kesiapan akan lahir jika kita memiliki informasi yang benar," ujar Samuel di hadapan pemirsa.
Menurut Samuel, penyebaran informasi yang masif dan terukur menjadi kunci utama untuk meredam kepanikan di tengah masyarakat. Sebagai langkah nyata, pihaknya telah menginstruksikan struktur partai di tingkat Dewan Pimpinan Cabang (DPC), Pimpinan Anak Cabang (PAC), ranting, hingga anak ranting di Kota Semarang untuk menyosialisasikan panduan mitigasi El Nino, termasuk memasang poster edukasi di balai-balai RT agar mudah diakses warga.
Selain ancaman kekeringan dan gagal panen, Samuel juga menyoroti dampak ikutan berupa krisis air bersih dan penurunan kualitas kesehatan akibat cuaca ekstrem. Ia mengajak masyarakat untuk mulai mengubah kebiasaan hidup sehari-hari menjadi lebih bijak, khususnya dalam penggunaan air bersih.
"Kita harus lebih bijak memakai air. Misalnya, kita bisa memanfaatkan kembali air bekas cucian beras untuk menyiram tanaman, atau beralih menggunakan gayung dari bak mandi dibanding menggunakan pancuran air (shower) yang kerap menghabiskan air lebih banyak secara tidak sadar," jelasnya.
Tidak hanya soal air, dampak cuaca panas ekstrem juga menuntut penyesuaian pola konsumsi dan kreativitas para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Samuel menceritakan pengalamannya saat berdialog dengan konstituen yang berprofesi sebagai pedagang makanan, di mana ia menantang para pelaku UMKM untuk berinovasi menghadapi penurunan minat beli terhadap produk makanan tertentu akibat cuaca panas.
"Kemarin ada konstituen yang sudah 15 tahun berjualan gorengan mengeluhkan tantangan usahanya. Saya sarankan, dari sepuluh jenis gorengan yang dijual, dua di antaranya mulai divariasikan dengan produk rebusan, seperti pangsit rebus atau pisang rebus. Ini langkah positif agar pelaku UMKM tetap bisa bertahan dan kreatif di tengah situasi ekstrem," tutur politikus yang akrab disapa Om Samuel ini.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Dalam kesempatan yang sama, Samuel juga mendorong masyarakat untuk kembali menghidupkan nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom), seperti mengonsumsi buah-buahan tinggi serat yang kaya kandungan air, memanfaatkan tanaman obat keluarga (toga), serta membiasakan gaya hidup lambat (slow living). Ia menilai, masyarakat Indonesia sebenarnya telah memiliki ketahanan budaya yang luar biasa dalam berdampingan secara selaras dengan alam.
"Kita diciptakan Tuhan di lahan yang subur dan kaya akan kearifan lokal. Sudah saatnya kita mengurangi ketergantungan berlebihan pada hal-hal modern yang justru merusak lingkungan, seperti penggunaan pendingin ruangan (AC) secara masif yang memicu pemanasan global. Mari kita kembali pada kebiasaan sederhana yang ramah lingkungan," ajaknya.
Mengakhiri perbincangan, Samuel mengingatkan bahwa mitigasi krisis iklim tidak bisa dibebankan kepada pemerintah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Dengan komunikasi yang baik, koordinasi yang terarah, serta aksi nyata dari tingkat keluarga, dampak buruk El Nino diyakini dapat diminimalkan secara bersama-sama.
"Saya percaya pada komunikasi yang baik akan menimbulkan koordinasi yang baik. Koordinasi yang baik menyebabkan kita bisa berkolaborasi untuk menghadapi tantangan ini bersama-sama," pungkasnya.

















































































