Yogyakarta, Gesuri.id – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo yang juga kader PDI Perjuangan menegaskan, keberhasilan Kota Yogyakarta menurunkan angka stunting tidak dapat dilepaskan dari pesan dan arahan langsung Ketua Umum PDI Perjuangan, Prof. Dr. (HC) Megawati Soekarnoputri.
Hal tersebut disampaikan Hasto dalam wawancara eksklusif bersama Nurfahmi Budi Prasetyo dan Tim Gesuri.id, di ruang kerjanya, awal November 2025 lalu.
Hasto menegaskan bahwa arah kebijakan stunting di Kota Jogja terinspirasi langsung dari pesan Megawati Soekarnoputri ketika dirinya masih menjabat Kepala BKKBN. Menurut Hasto, Ibu Megawati memberikan perhatian luar biasa terhadap soal makanan anak dan gizi keluarga.
“Saya ingat pesan Ibu Megawati. Beliau selalu bilang, ayo urus makanan anak-anak. Ibu Mega itu sampai yang bukan ahli gizi saja lebih tahu daripada saya yang dokter,” ungkapnya.
Hasto bahkan menunjukkan bahwa dirinya menyimpan dan menggunakan buku “Resep Makanan Baduta dan Ibu Hamil untuk Generasi Emas Indonesia”, karya Megawati Soekarnoputri, sebagai panduan teknis dalam penyusunan program gizi di Kota Yogyakarta. “Saya punya bukunya dan saya kombinasikan dengan standar nilai gizi,” tambah Hasto.
Dari arahan tersebut, Pemkot Yogyakarta bersama Fraksi PDI Perjuangan DPRD mengusulkan alokasi Dana Keistimewaan sebesar Rp100 juta per kelurahan khusus untuk penanganan stunting. Dana ini digunakan untuk membeli makanan bergizi seperti telur, ikan, dan daging, yang kemudian dibagikan setiap hari kepada keluarga sasaran.
Karena banyak keluarga penerima tidak memiliki kulkas, Pemkot membuat mekanisme penyimpanan bahan makanan di rumah para kader.
“Kulkasnya bisa dititipkan di tempat kader. Kader yang membagi makanan door to door, terus-menerus, minimal enam bulan, supaya terkoreksi,” jelas Hasto.
Langkah berkelanjutan ini membawa hasil signifikan. Angka stunting di Kota Yogyakarta yang pada akhir 2024 berada di angka 14,8 persen, berhasil diturunkan menjadi 9,6 persen per September 2025. “Artinya lumayan. Kita berusaha enam bulan, ada dampaknya,” ujarnya.
Hasto bahkan menyampaikan target ambisius: menyamai keberhasilan Kota Surabaya yang mampu menekan stunting hingga di bawah 6 persen. Ia mengaku memiliki alasan kuat untuk menantang dirinya sendiri.
“Saya dulu yang ngomong soal stunting kepada Pak Eri Cahyadi waktu jadi Kepala BKKBN. Beliau langsung eksekusi, dari 20 persen lebih jadi 6 persen, sekarang 4 persen. Jadi saya juga malu kalau nggak bisa. Sekarang saya harus bisa, jangan hanya omong saja,” tegasnya.
Menurut Hasto, pesan utama dari Megawati adalah bahwa urusan stunting bukan hanya soal kesehatan, tetapi keselamatan masa depan bangsa. Karena itu, ia memastikan seluruh jajaran di Kota Yogyakarta akan terus bekerja dengan disiplin, kolaboratif, dan berbasis data demi menciptakan generasi emas yang lebih sehat.
Hasto mengungkapkan bahwa penanganan stunting hanya bisa efektif apabila berbasis pada data yang akurat dan sistematis. Karena itu, ia menggerakkan seluruh kepala desa, camat, hingga 495 kader Sistem Informasi Keluarga (SIGA) untuk melakukan pendataan secara menyeluruh.
“Stunting ini dasarnya adalah data. Maka kemarin kita mengumpulkan kepala-kepala desa, semua camat. Semua kemudian saya bilang SIGA harus jalan. Kader kita jumlahnya 495,” ujar Hasto.
Melalui sistem ini, pemerintah kota dapat memetakan kondisi setiap kelurahan: mulai dari balita stunting, ibu hamil, hingga pasangan baru menikah yang berpotensi melahirkan anak dengan risiko stunting. Hasto menekankan pentingnya mencegah kehamilan pada perempuan dengan kondisi kurang gizi.
“Yang baru saja nikah itu penting. Bagi perempuan yang terlalu langsing, lingkar lengannya kurang dari 23,5 cm, jangan langsung hamil dulu. Dibesarkan dulu sedikit dengan nutrisi, kalau tidak nanti anaknya bisa stunting,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa persoalan seperti anemia dan kekurangan gizi kini terpetakan dengan baik—berkat kerja keras para kader serta dukungan legislatif. “Kita juga dibantu teman-teman anggota DPRD, Pak Eko dan Pak Nuryadi. Ketua DPRD DIY kan juga dari PDI Perjuangan,” katanya.

















































































