Ikuti Kami

Hendrawan Ingatkan Tim Ekonomi Prabowo: Jaga Kepercayaan Pasar, Hindari 'Optimisme Tanpa Dasar'

​Hendrawan menilai, kredibilitas pemerintah merupakan pertaruhan utama.

Hendrawan Ingatkan Tim Ekonomi Prabowo: Jaga Kepercayaan Pasar, Hindari 'Optimisme Tanpa Dasar'
Politikus PDI Perjuangan, Hendrawan Supratikno.

Jakarta, Gesuri.id  – Politikus PDI Perjuangan, Hendrawan Supratikno, memberikan peringatan keras kepada jajaran menteri ekonomi di Kabinet Merah Putih pimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Ia menekankan pentingnya menjaga inner logic (logika internal) dan konsistensi kebijakan demi mempertahankan kepercayaan pasar di tengah gejolak geopolitik global.

​Hendrawan menilai, kredibilitas pemerintah merupakan pertaruhan utama. Jika pasar sudah meragukan kebijakan pemerintah, dampak sistemik terhadap ekonomi nasional tidak akan terhindarkan.

Baca: Ganjar Pranowo Tekankan Pentingnya Kritik 

​“Jangan sampai kehilangan inner logic, kehilangan konsistensi yang dipercaya pasar. Jika terjadi defisit kepercayaan yang parah, kebijakan apa pun dinilai tidak kredibel, ekonomi akan berantakan,” tegas Hendrawan kepada awak media, Senin (6/4/2026).

​Menanggapi situasi geopolitik yang memanas, Hendrawan mengingatkan tim ekonomi agar tidak sekadar menebar janji manis. Menurutnya, narasi yang dibangun pemerintah harus berlandaskan data yang nyata.
​Ia menyebut bahwa "optimisme buta" justru akan menjadi bumerang bagi stabilitas ekonomi nasional.

​“Optimisme harus terukur dan realistis. Optimisme yang tanpa dasar justru bersifat korosif dan akan menggerogoti kepercayaan pasar,” jelasnya.

​Pernyataan Hendrawan ini muncul sebagai respons atas langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang berupaya menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap di bawah ambang batas 3 persen.

Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo

​Meskipun hasil stress test (uji ketahanan) Kemenkeu menunjukkan defisit masih aman di angka 2,9 persen meski harga minyak menyentuh USD 120 per barel, Hendrawan memberikan catatan kritis. Ia mengakui kenaikan harga minyak mungkin bersifat temporer jika prospek perdamaian global muncul. Namun, pemerintah tidak boleh lengah jika kondisi tersebut bertahan lama.

​“Jika harga (minyak) bertengger di level tinggi lebih dari tiga bulan, risiko pelebaran defisit akan masuk zona berbahaya,” imbuh Hendrawan.

​Lebih lanjut, Hendrawan mengingatkan bahwa tekanan terhadap APBN tidak hanya bersumber dari fluktuasi harga minyak mentah atau besarnya subsidi energi. Ia menekankan adanya beban-beban lain yang saling berkaitan, yang jika tidak dikelola dengan konsistensi logika yang matang, dapat mengancam kesehatan fiskal negara dalam jangka panjang.

Quote