Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua BKSAP DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Irine Yusiana Roba, mengatakan persamaan akar sejarah menjadikan Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu sebagai alat komunikasi yang paling luas.
"Selain itu juga lama digunakan di kawasan Asia Tenggara," ujarnya, Minggu (4/1).
Karena itu, Irine menekankan pentingnya penguatan peran Bahasa Indonesia-Melayu di tingkat ASEAN.
Sebab, menurut Irine, penguatan tersebut perlu dibarengi dengan langkah nyata.
Ia mencontohkan termasuk menyamakan pemahaman tentang sejarah Bahasa Melayu yang menjadi dasar berkembangnya Bahasa Indonesia.
"Dengan pemahaman yang sama, kerja sama antarnegara di ASEAN bisa terbangun lebih kuat," sambungnya.
Irine juga menilai, salah satu tantangan yang masih ada adalah dikotomi antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu.
Karena itu, ia mendorong agar sekat tersebut dihilangkan, sehingga bahasa dapat menjadi pemersatu dan memperkuat diplomasi di kawasan ASEAN.
Sementara itu, Wacana untuk memperkuat Bahasa Indonesia-Melayu sebagai bahasa resmi atau bahasa pengantar di kawasan ASEAN terus menjadi isu strategis guna memperkokoh identitas regional.
Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa penguatan bahasa ini dinilai wajib dilakukan:
1. Dasar Demografi yang Kuat
Bahasa Indonesia dan Melayu digunakan oleh lebih dari 300 juta orang di Asia Tenggara, mencakup Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, hingga Thailand Selatan dan Filipina Selatan. Ini menjadikannya bahasa dengan penutur terbanyak di ASEAN.
2. Jembatan Diplomasi dan Budaya
Penggunaan bahasa yang serumpun mempermudah komunikasi antarwarga negara (grassroots) tanpa harus selalu bergantung pada bahasa Inggris. Hal ini dapat mempercepat integrasi sosial-budaya yang menjadi salah satu pilar utama ASEAN.
3. Kekuatan Ekonomi Baru
Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Malaysia yang stabil, penggunaan bahasa ini dalam sektor perdagangan dan jasa di kawasan akan meningkatkan efisiensi negosiasi dan kolaborasi bisnis lokal.
4. Tantangan dan Langkah Strategis
Meskipun memiliki potensi besar, terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi:
Standardisasi: Perlu adanya penyelarasan istilah teknis antara varian Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu Malaysia/Brunei melalui lembaga seperti Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia (MABBIM).

















































































