Ikuti Kami

Meninggalnya Dua Calon Manajer KDMP, GM Totok Hedi Santosa Soroti Prinsip Gotong Royong Koperasi

Koperasi itu semestinya tumbuh alamiah karena kesepakatan bersama untuk mengupayakan hal yang sebaik-baiknya.

Meninggalnya Dua Calon Manajer KDMP, GM Totok Hedi Santosa Soroti Prinsip Gotong Royong Koperasi
Anggota Komisi VI DPR RI, GM Totok Hedi Santosa.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VI DPR RI, GM Totok Hedi Santosa menyampaikan pandangannya terkait meninggalnya dua calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). 

Menurutnya, pengembangan koperasi harus tetap berpegang pada prinsip dasar gotong royong dan tumbuh secara alamiah dari kebutuhan serta kesepakatan bersama masyarakat, bukan semata-mata didorong oleh target yang ditetapkan dari luar organisasi.

“Koperasi itu semestinya tumbuh alamiah karena kesepakatan bersama untuk mengupayakan hal yang sebaik-baiknya dari komunitas masyarakat dan berdasar semangat gotong royong,” kata GM Totok, dikutip Rabu (24/6/2026).

Totok menilai upaya mendorong pembentukan koperasi secara serentak di berbagai wilayah pada dasarnya bukan sesuatu yang keliru. Namun, menurutnya, proses tersebut harus tetap menjaga nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi gerakan koperasi.

“Merekayasa koperasi secara simultan di berbagai wilayah bukan tidak boleh. tetapi tetap harus mempertahankan prinsip gotong royongnya. pelatihan apapun utk mengakselerasi kemajuan koperasi yg bersangkutan seharusnya didasarkan kebutuhan yg tumbuh dari dalam organisasi tersebut. bukan sebaliknya,” ucapnya.

Ia menegaskan koperasi seharusnya berkembang berdasarkan inisiatif yang lahir dari anggotanya sendiri. Dengan demikian, koperasi dapat tetap menjadi wadah pemberdayaan masyarakat yang berakar pada kebutuhan riil di lapangan.

“Dengan kata lain selalu tumbuh dari bawah atas inisiatif dari bawah juga. menjadikan koperasi tidak berbeda dengan tipe toko modern meski dengan alasan demi terpenuhi secara cepat target yang diharapkan tetap saja kurang tepat,” ujarnya. 

Menurut Totok, orientasi utama koperasi tidak hanya terletak pada pencapaian target ekonomi, tetapi juga pada pembangunan kualitas manusia yang menjadi bagian dari koperasi itu sendiri. Ia menilai koperasi harus mampu membantu masyarakat memahami dan memenuhi kebutuhannya secara mandiri.

“Singkat cerita koperasi seharusnya lebih berorientasi pada pembagunan manusia yang pada gilirannya mampu membaca kebutuhan dirinya dan masyarakatnya dibanding menciptakan kebutuhan di masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Totok mengingatkan koperasi akan kehilangan jati dirinya apabila lebih fokus menciptakan kebutuhan baru di masyarakat dibanding menjawab kebutuhan yang sudah ada. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat membuat koperasi semakin jauh dari akar sosial yang menjadi landasan keberadaannya.

“Jika yang terjadi pada yang kedua maka koperasi akan tercerabut dari akarnya, dan menjadi makhluk asing yang berada di tengah masyarakat. kemajuan dalam ekonomi masyarakat memang menjadi salah satu tujuan, tetapi yang lebih dari itu adalah pertumbuhan kualitas hidup masyarakat kooerasi dan masyarakat di sekitarnya,” ungkapnya.

Ia berharap pengembangan koperasi ke depan tetap menempatkan masyarakat sebagai subjek utama, sehingga pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup anggota koperasi dan lingkungan sekitarnya.

Quote