Ikuti Kami

Minyak Goreng Langka, Banyak Kebun Sawit Tak Punya Pabrik

Kelangkaan minyak goreng di Kaltara akibat faktor lokasi geografis Kaltara yang cukup jauh dari lokasi pabrik yang memproduksi minyak goreng

Minyak Goreng Langka, Banyak Kebun Sawit Tak Punya Pabrik
Kondisi stok minyak yang mengalami kekosongan di beberapa swalayan. (TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH)

Tanjung Selor, Gesuri.id - Anggota DPR RI dapil Kaltara, Deddy Sitorus menjelaskan permasalahan kelangkaan minyak goreng di Kaltara akibat faktor lokasi geografis Kaltara yang cukup jauh dari lokasi pabrik yang memproduksi minyak goreng.

Baca: Beras Kaltara Jadi Penyangga Pangan di IKN? Tergantung Pemda

"Untuk mengangkut kemari itu memang perlu waktu yang panjang, dan tentu berebut dengan kekosongan di daerah lain di Indonesia yang lebih dekat pabrik dan lebih padat penduduknya," kata Deddy Sitorus, Minggu (4/4).

"Karena meskipun kita punya banyak kebun sawit, kita tidak ada yang punya pabrik minyak goreng," tambahnya.

Tak hanya faktor kondisi geografis, kelangkaan minyak goreng juga terjadi akibat kurangnya pasokan dari pabrik.

Deddy mencontohkan, hal tersebutlah yang saat ini dialami oleh perusahaan BUMN yakni PT RNI, yang kini mendapat penugasan pemerintah sebagai distributor minyak goreng.

"RNI ini ditugaskan pemerintah jadi distributor, kendala distributor sekarang ini pemasoknya pabriknya belum memenuhi kuota yang ditetapkan pemerintah," katanya.

"RNI itu ditugaskan pemerintah untuk menyalurkan 1.300 ton per hari, tapi yang baru diberikan kepada RNI itu baru 300 ton jadi ya problem kita di situ," jelasnya.

Terkait pihaknya yang mampu mendatangkan minyak goreng curah ke Kaltara, kendati kondisi kelangkaan masih terjadi.

Baca: Andreas Hugo Gerah Dengan Manuver Politik Luhut Binsar

Deddy menjelaskan, hal tersebut tidak lepas dari kegiatan operasi pasar minyak goreng curah, yang dilaksanakan oleh Kemendag RI dengan PT RNI sebagai distributor.

Selain itu, biaya distribusi operasi pasar kali ini juga masih ditanggung dari dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) dari PT RNI.

"Ini kita mulai dengan bantuan penuh dari Pak Menteri Kemendag dan dari Dirut RNI, dalam rangka operasi pasar minyak goreng, tanpa mereka ini tidak mungkin terjadi," tuturnya.

"Dan kenapa Tanjung Selor dulu? karena ini terdekat masih bisa lewat jalan darat, karena kalau diangkut kapal laut tambahan distribusi biayanya tambah berat," ungkapnya. Dilansir dari kaltaratribunnewscom.

 

Kurator: Syahrul

Quote