Bali, Gesuri.id - Anggota DPR RI asal Bali, Nyoman Parta menyoroti UMP Bali terus naik dari tahun ke tahun. Jika dibandingkan dengan Jakarta dalam rentang 16 tahun, kenaikan tersebut justru diikuti pelebaran jarak yang cukup besar, dari hanya Rp288 ribu pada 2010 menjadi Rp2,52 juta pada 2026.
Pada 2010, UMP Bali tercatat Rp829.316, sementara Jakarta Rp1.118.009. Tahun 2026, UMP Bali sudah mencapai Rp3.207.459, sedangkan Jakarta Rp5.729.876.
Dengan demikian, selisih keduanya kini mencapai Rp2.522.417, atau sekitar 8,7 kali lipat dibandingkan gap pada 2010. UMP Bali 2026 sendiri naik 7,04 persen dari tahun sebelumnya.
Nyoman Parta, yang akrab disapa Pak Man, ketika membahas persoalan pengupahan Bali. Menurutnya, persoalan UMP tidak cukup dilihat dari persentase kenaikan setiap tahun, tetapi juga harus dilihat dari posisi upah Bali dibandingkan daerah lain dan bagaimana kesenjangan tersebut terbentuk selama bertahun-tahun.
"Dan terakhir di tahun 2026, Bali tiga juta dua ratus, DKI lima koma tujuh, perbedaannya dua setengah juta. Jadi yang tertinggal itu siapa? Bali. Yang lama sekali proses upahnya naik," ujar Pak Man, dikutip Minggu (27/9/2026).
Menurutnya, gap tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Selisih yang awalnya hanya ratusan ribu rupiah terus membesar menjadi sekitar Rp1 juta pada 2013, Rp1,1 juta pada 2015, kemudian menembus Rp2 juta dan akhirnya mencapai Rp2,52 juta pada 2026.
Pak Man menilai kenaikan UMP yang berlangsung sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun membuat kesenjangan tersebut semakin sulit dikejar.
Ia juga mengatakan besaran kenaikan UMP tidak hanya berkaitan dengan formula ekonomi, tetapi turut dipengaruhi keputusan pemerintah daerah dan goodwill kepala daerah dalam menentukan kebijakan pengupahan.
"Ya gubernurnya kan gubernur," ujar Pak Man ketika menjelaskan adanya ruang keputusan pemerintah daerah dalam menentukan arah kebijakan upah.

















































































